AALI
9800
ABBA
284
ABDA
6250
ABMM
1365
ACES
1200
ACST
185
ACST-R
0
ADES
3310
ADHI
810
ADMF
7600
ADMG
177
ADRO
2210
AGAR
362
AGII
1430
AGRO
1260
AGRO-R
0
AGRS
151
AHAP
67
AIMS
358
AIMS-W
0
AISA
173
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1090
AKRA
730
AKSI
685
ALDO
1355
ALKA
300
ALMI
282
ALTO
268
Market Watch
Last updated : 2022/01/26 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
507.28
0.93%
+4.69
IHSG
6600.82
0.5%
+32.65
LQ45
946.86
0.8%
+7.52
HSI
24289.90
0.19%
+46.29
N225
27011.33
-0.44%
-120.01
NYSE
0.00
-100%
-16413.97
Kurs
HKD/IDR 1,838
USD/IDR 14,325
Emas
849,695 / gram

Upaya Holding PTPN Agar RI Tak Impor Gula Lagi di 2025

ECONOMICS
Suparjo Ramalan
Sabtu, 15 Januari 2022 06:59 WIB
Kementerian BUMN menargetkan Holding Perkebunan dapat melipatgandakan produksinya menjadi 1,8 juta agar Indonesia bisa swasembada gula pada 2025 mendatang.
Upaya Holding PTPN Agar RI Tak Impor Gula Lagi di 2025 (FOTO: Dok MNC Media)
Upaya Holding PTPN Agar RI Tak Impor Gula Lagi di 2025 (FOTO: Dok MNC Media)

IDXChannel - Kementerian BUMN menargetkan Holding Perkebunan Nusantara (PTPN) dapat melipatgandakan produksinya menjadi 1,8 juta agar Indonesia bisa swasembada gula pada 2025 mendatang.

Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara, M. Abdul Ghani mengatakan, untuk mencapai target tersebut, pihaknya akan melakukan restrukturisasi bisnis gula. Program ini menjadi bagian dari 88 program strategis Kementerian BUMN dan diharapkan menjawab tantangan ketahanan gula nasional.

Perseroan pun ditugaskan pemegang saham melipatgandakan produksi gula menjadi 1,8 juta ton untuk mendukung swa sembada gula konsumsi pada tahun 2025 mendatang. Langkah itu sekaligus menjadi program kesejahteraan para petani tebu rakyat.

Ghani mencatat, langkah strategis yang dilakukan Holding Perkebunan Nusantara adalah membentuk PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) pada 17 Agustus 2021 yang lalu. Sinergi Gula Nusantara merupakan gabungan tujuh anak perusahaan pengelola perkebunan tebu, yaitu PTPN II di Sumatera Utara, PTPN VII di Lampung, PTPN IX di Jawa Tengah, PTPN X, PTPN XI, dan PTPN XII di Jawa Timur, serta PTPN XIV di Sulawesi Selatan.

Pembentukan PT SGN, kata Ghani, memiliki tiga inisiatif utama yaitu modernisasi pabrik gula, Intensifikasi melalui peningkatan produktivitas, serta ekstensifikasi lahan dengan cara sinergi BUMN dan program kemitraan dengan petani tebu.

“Dengan demikian, persoalan disparitas kinerja pabrik gula PTPN dapat terselesaikan. Tahun 2021, sebelum transformasi bisnis gula dilakukan, sebenarnya beberapa pabrik gula kami sudah memiliki kinerja optimum dengan harga pokok produksi sekitar Rp 8.000,” Ghani, Jumat (14/1/2022). 

Dia menuturkan, restrukturisasi bisnis gula PTPN akan membawa dampak positif bagi ketahanan pangan Indonesia. Holding Perkebunan Nusantara telah memiliki roadmap bisnis gula yang sejalan dengan target pemerintah dalam mencapai swasembada gula.

Restrukturisasi bisnis gula melalui pembentukan PT Sinergi Gula Nusantara pun diyakini akan meningkatkan kemandirian gula nasional dan menyejahterakan petani.
“Mewujudkan kesejahteraan petani tebu rakyat merupakan faktor kunci dalam mewujudkan kemandirian gula konsumsi nasional," ungkap dia. 

Ghani menjelaskan, selama ini sumber pasokan tebu PTPN berasal dari HGU sendiri dan bekerjasama dengan petani rakyat.  Produktivitas tebu petani beberapa tahun belakangan ini masih sangat rendah yaitu di bawah 70 ton tebu/ha, lantaran rendahnya kualitas bibit dan teknik budidaya serta pengelolaan lahan yang kurang baik, dimana proses bongkar ratoon bisa melebihi 4 tahun.

Kondisi ini menyebabkan tingginya beban pokok petani tebu rakyat dan pada akhirnya berpengaruh terhadap pendapatan petani tebu. Untuk itu, pada roadmap gula ke depannya, BUMN melalui PTPN dan BUMN pangan dituntut meningkatkan kesejahteraan petani melalui pendampingan dan pendanaan untuk meningkatan produktivitas, serta minat petani dalam menanam tebu.  

Ghani berhitung, peningkatan kesejahteraan petani dilakukan melalui optimalisasi masa tanam, penataan komposisi dan penggunaan varietas unggul baru, perbaikan water management, dan aplikasi pemupukan tepat waktu dan dosis. 

Sehingga, produktivitas tebu dapat ditingkatkan di atas 80 ton tebu/ha dan rendemen di atas 8%. Target itu dipandang mampu menekan beban pokok produksi tebu petani dan meningkatkaan pendapatan sisa hasil usaha.

Ghani menjelaskan, penetapan harga gula sebesar Rp 10.500/kg pada dasarnya dilakukan dalam upaya melindungi petani yang produktivitasnya masih rendah atau sekitar 5 ton GKP/ha. Seiring dengan perbaikan yang terus dilakukan, produktivitas tebu yang terus meningkat, maka harga gula di tingkat nasional dapat diturunkan dengan tetap meningkatkan pendapatan petani. 

"Dengan dukungan dari PTPN sebagaimana disebutkan dalam peta jalan yang telah disusun, kami yakin dalam kurun waktu 3 – 4 tahun, produktivitas petani tebu rakyat akan meningkat di atas 7 ton GKP/ha. Dimana, dari hasil simulasi kami, pada tingkat produktivitas 7 ton GKP/ha, maka beban pokok petani turun menjadi Rp 8.300/kg. Dengan demikian, usaha tani tebu rakyat akan kompetitif dengan petani padi,” tutur Ghani.

Ghani menyakini, kolaborasi PTPN dan petani tebu rakyat dapat menyukseskan swasembada gula konsumsi nasional, menyejahterakan petani, dan menciptakan gula dengan harga yang wajar. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD