IDXChannel— Hipertensi kini bukan lagi penyakit yang identik dengan usia lanjut. Fenomena lonjakan kasus tekanan darah tinggi di kalangan usia muda makin marak terjadi. Tren mengkhawatirkan ini dipicu oleh kombinasi faktor genetik, pola hidup tidak sehat, hingga tingginya tekanan psikologis di dunia kerja yang dirasakan anak muda.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi dalam unggahan video di akun instagramnya menjelaskan bahwa riwayat hipertensi dari keluarga dan gaya hidup memegang peranan penting dalam meningkatkan risiko hipertensi pada usia muda.
"Kenapa anak muda sering terkena hipertensi? Jawabannya adalah karena gaya hidup dan lifestyle, dan kedua karena genetik. Nah, penyakit-penyakit kardiovaskular yang terkait dengan jantung dan tekanan darah, itu ada faktor genetik," ujar dr. Tirta, dikutip Kamis (20/8/2026).
Maka dari itu, ia mengimbau masyarakat untuk lebih peka terhadap rekam medis keluarga. Pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi satu hal yang harus dilakukan jika ada anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit serupa.
"Jadi dilihat, kalau kamu lihat bapak, ibumu, atau saudaramu, kakek-nenekmu ada riwayat meninggal dadakan karena penyakit jantung dan stroke, bisa jadi kamu juga harus check-up. Jadi yang pertama genetik," tambah dia.
Selain faktor keturunan, tekanan psikologis yang sudah menumpuk dan dirasakan sejak masa sekolah hingga berlanjut ke dunia kerja turut memicu lonjakan hormon stres (kortisol) yang berdampak pada tekanan darah. Saat sekolah anak muda dituntut konsentrasi dan fokus belajar selama di sekolah sejak pagi hingga siang bahkan sore hari.
Hal itu berlanjut saat masuk ke dunia kerja dimana hal itu akhirnya menimbulkan tekanan psikologis kerja yang naik dan memicu stres hingga beresiko meningkatkan hipertensi.
"Kedua karena gaya hidup. Pada anak muda ini kan tekanannya berat. Mereka terbiasa dengan konsentrasi karena dulu sekolah kita dari jam berapa? Jam 07.00–01.00. Jadi sudah capek sekolah, les, beban sekolah, dimarahin. Terus sampai kerja, dimarahin lagi, lembur lagi, belum standar sosial, itu akhirnya membuat gaya hidupnya menjadi tekanan psikologis kerja naik. Tekanan psikologis kerja naik, stres, itu akan meningkatkan risiko dari hipertensi, karena kortisolnya naik," jelas dr. Tirta.
Kondisi tersebut kerap diperparah oleh kebiasaan harian yang buruk, mulai dari pola tidur yang berantakan, minim aktivitas fisik, konsumsi karbohidrat berlebih, hingga kebiasaan merokok yang cukup tinggi.
"Pola tidur berantakan, makan makanan karbo terlalu banyak, enggak pernah olahraga, terus habis itu dia ngerokok, ditambah ngerokok dan kopi. Kopi tok aman. Nah, kopi dikombinasi rokok, naik tuh simpatis. Dua kombinasi ini membuat tekanan anak-anak muda ini menjadi tekanan darahnya di atas rata-rata," tegas dia.
dr. Tirta menuturkan bahwa sangat penting memantau angka sistolik dan diastolik. Tekanan darah normal berada di kisaran 120/80 mmHg. Jika angka sistolik mencapai atau melebihi 140 mmHg, seseorang sudah masuk dalam kategori hipertensi tahap pertama.
"Tekanan darah normal tuh adalah 120 tuh sistoliknya, per 80 mmHg. Di bawah itu masih normal. Di bawah 100 itu hipotensi, bisa pingsan orangnya. Di atas 140 itu hipertensi stage 1. Jadi kalau tekanan darahmu dari 100–140, ya, sistoliknya, itu masihlah aman. Kalau bawahnya, diastolik, itu yang sensitif. Normalnya kan 80, 70 masih aman. Tapi kalau sudah 90–100 diastoliknya, berarti kemungkinan ada hipertensi," tutur dr. Tirta.
Guna mencegah risiko komplikasi kardiovaskular di usia muda, ia menyarankan langkah pencegahan mendasar melalui perbaikan pola hidup secara menyeluruh.
"Jadi ubah gaya hidup, rajin olahraga, tidur teratur, dan kurangi stres kerja," pungkas dia.
(Nadya Kurnia)