“Ketika pasien diabetes menderita retinopati diabetik, banyak muncul kerusakan pada pembuluh darah. Akhirnya bocor, pecah, kemudian muncul merah-merah di retina. Itu darah yang keluar dari pembuluh darah yang rusak,” jelasnya.
Selain perdarahan, muncul pula endapan protein, lemak, dan sisa metabolisme di retina yang dapat mengganggu penglihatan. Kondisi ini akan semakin berat jika diabetes berlangsung lama dan disertai faktor risiko lain seperti hipertensi, kadar lemak tinggi, serta kebiasaan merokok.
Prof Bayu menambahkan, meski seseorang telah berhenti merokok atau berhasil mengontrol tekanan darah dan gula darah, kerusakan akibat diabetes yang telah berlangsung bertahun-tahun juga tetap dapat terus berkembang.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi diabetes mencapai 11,7 persen atau sekitar 32 juta penyandang diabetes di Indonesia. Namun, hanya sekitar 4,8 juta orang yang tercatat rutin melakukan kontrol kesehatan.
Sementara itu, analisis data BPJS Kesehatan menunjukkan sekitar 15 juta peserta telah terdiagnosis diabetes. Dari jumlah tersebut, sekitar 12 juta rutin berobat ke fasilitas kesehatan.