AALI
9800
ABBA
284
ABDA
6250
ABMM
1365
ACES
1200
ACST
185
ACST-R
0
ADES
3310
ADHI
810
ADMF
7600
ADMG
177
ADRO
2210
AGAR
362
AGII
1430
AGRO
1260
AGRO-R
0
AGRS
151
AHAP
67
AIMS
358
AIMS-W
0
AISA
173
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1090
AKRA
730
AKSI
685
ALDO
1355
ALKA
300
ALMI
282
ALTO
268
Market Watch
Last updated : 2022/01/26 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
507.28
0.93%
+4.69
IHSG
6600.82
0.5%
+32.65
LQ45
946.86
0.8%
+7.52
HSI
24289.90
0.19%
+46.29
N225
27011.33
-0.44%
-120.01
NYSE
0.00
-100%
-16413.97
Kurs
HKD/IDR 1,838
USD/IDR 14,325
Emas
849,695 / gram

Beternak Lalat, Pemuda Ini Bisa Ekspor Produk Pakan dan Pupuk ke 18 Negara

INSPIRATOR
Banda Haruddin/Kontri
Rabu, 01 Desember 2021 20:31 WIB
Dari budi daya lalat ini, Budi Tanak bisa menghasilkan pundi pundi yang cukup besar.
Dari budi daya lalat ini, Budi Tanak bisa menghasilkan pundi pundi yang cukup besar.  (Foto: MNC Media)
Dari budi daya lalat ini, Budi Tanak bisa menghasilkan pundi pundi yang cukup besar. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Lalat merupakan jenis hewan yang banyak tidak disukai oleh manusia pada umumnya karena dianggap menjijikkan dan kotor. Namun bagi Budi Tanaka, lalat merupakan berkah tersendiri. Dari lalat inilah, dia menjalani usahanya.

Dari budi daya lalat ini, dia bisa menghasilkan pundi pundi yang cukup besar. Dimana lalat yang bertelur dan menjadi larva (maggot) diubah menjadi berbagai pakan hewan dan juga pupuk. Bahkan kini usahanya sudah manaklukan pasar global.

"Kini kita sudah mengekpor pakan itu ke 18 negara," kata Budi, CEO PT Bio Cycle Indo kepada MPI Rabu (1/12/2021).

Sejumlah negara tujuan ekspor pakan itu antara lain Amerika, Jepang, Taiwan dan semua negera di Eropa sepeti Francis, Ingris, Jerman. Sementara untuk dalam negeri itu terbesar di Pulau Jawa.

"Produk yang kita buat yakni pakan ikan, kucing, anjing, udang, reptil, burung dan lainnya. Terbanyak kita ekspor yakni di negara di Eropa," imbuhnya.

Usaha sang eksportir milenial ini berada di  Desa Sei Putih Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau. Perusahaan  produksi serangga terbesar di Asia Tenggara ini berdiri di atas lahan 6 hektar.

Namun kisah Budi tak sesukses beberapa tahun lalu. Dimana dulu dia banyak menggeluti usaha, namun jatuh bangun. Pada akhir tahun 2018, diapun tertarik mengeluti pakan dari belatung atau larva lalat di Bogor. Disana, dia merintisusaha di bangunan 2X3 meter."Investor luar tertarik dengan usaha saya," ucap pria kelahiran 1987 itu.

Di tahun 2020, diapun pindah ke Riau dan membuka tempat usaha yang jauh lebih besar. Setelah beberapa dibangun, perusahaan pun berdiri. 

"Disini kita lihat bagaimana makanan larvanya. Pabrik sudah berdiri disini selama 10 bulan," imbuhnya.

Dia menjelaskan bahwa memilihara telor jadi larva dan lalat."Untuk bertelor lagi membutuhkan waktu 40 sampai 45 hari. Hari ke 14 kita ambil larvanya kita jadikan produk berubah jadi tepung, minyak, pupuk dan runannya lagi kita buat pakan," ucap pria berusia 34 tahun ini.

Untuk saat ini setiap bulannya pabrik Bio Cycle Indo bisa memproduksi 50 ton kering 150 ton basah." Ini kan belum selesai semua jadi masih kecil. Nanti kalau sudah selesai semua bisa 500 ton perbulan," imbuh mantan pembalap ini. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD