AALI
8900
ABBA
230
ABDA
7075
ABMM
845
ACES
1415
ACST
252
ACST-R
0
ADES
1915
ADHI
1005
ADMF
8250
ADMG
163
ADRO
1315
AGAR
422
AGII
1125
AGRO
1135
AGRO-R
0
AGRS
470
AHAP
68
AIMS
380
AIMS-W
0
AISA
238
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
595
AKRA
3200
AKSI
535
ALDO
930
ALKA
244
ALMI
250
ALTO
382
Market Watch
Last updated : 2021/06/11 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
482.65
-0.44%
-2.14
IHSG
6095.50
-0.2%
-12.04
LQ45
901.64
-0.42%
-3.77
HSI
28842.13
0.36%
+103.25
N225
28948.73
-0.03%
-9.83
NYSE
0.00
-100%
-16620.00
Kurs
HKD/IDR 1,826
USD/IDR 14,188
Emas
866,552 / gram

Cerita Sukses UMKM Garmen Keluar dari Tekanan Pandemi Covid-19

INSPIRATOR
Agung bakti sarasa
Rabu, 09 Juni 2021 10:04 WIB
Pandemi Covid-19 telah menimbulkan dampak besar terhadap dunia usaha dan memaksa para pelakunya memutar otak, agar tetap dapat bertahan.
Cerita Sukses UMKM Garmen Keluar dari Tekanan Pandemi Covid-19. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Pandemi Covid-19 telah menimbulkan dampak besar terhadap dunia usaha dan memaksa para pelakunya memutar otak, agar tetap dapat bertahan. Pandemi yang disertai pembatasan aktivitas masyarakat berdampak langsung pada sepinya kegiatan usaha.

Akibatnya, toko hingga mall pun terpaksa tutup karena tak mampu menanggung beban operasional. Tetapi banyak juga yang tidak ingin menyerah dengan segala kondisi, meski harus memutar otak agar tidak terjerembab ke jurang kerugian.

Handra (37), pelaku UMKM yang juga pemilik brand lokal produk busana, Peter Nation, mengakui, harus memutar otak agar usahanya tetap berjalan. Didirikan pada 2008, Peter Nation awalnya menjual produk secara grosir. Tokonya yang berada di Pasar Tanah Abang Jakarta pun sempat berkembang pesat.

"Kami fokus bikin barang buat department store dari 3 tahun pertama," ungkap Hendra di Bandung, Rabu (9/6/2021).

Tepat tahun lalu, lanjut Hendra, dia terpaksa menutup toko grosirnya menyusul pembatasan aktivitas masyarakat. Tak kehilangan akal, Hendra kemudian menjajal pemasaran digital yang menurutnya sangat relevan dengan industri fesyen. 

"Pandemi ternyata memaksa saya untuk ‘melek’ media sosial dan marketplace," ujarnya. 

Meski produksi sempat dihentikan karena toko grosirnya tutup, Hendra tetap berupaya mempertahankan penjahit dan pegawai tokonya, agar tetap bisa memasarkan produknya.

“Awalnya bingung harus fotonya gimana, cara jualnya gimana, cara nge-post-nya. Marketplace ternyata membantu sekali. Pasarnya lebih luas,” ungkapnya. 

Lebih lanjut Hendra mengatakan, sejak awal berdiri, Peter Nation fokus pada busana khusus pria. Produknya meliputi kemeja lengan pendek, kemeja lengan panjang, hingga baju muslim. Setiap barang dibuat oleh konveksi pribadi dari tangan puluhan penjahit lokal. 

"(Peter Nation) berusaha bikin yang orang lain gak bikin. Produksi lokal. Apa yang orang request kita bikinin," jelas Hendra.

Dia menjamin, meski Peter Nation menggunakan bahan terbaik, namun harga yang ditawarkan tergolong harga ‘kaki lima’ dengan kisaran Rp185.000 hingga Rp195.000

Linen premium dan oxford menjadi dua bahan utama yang dipakai. Meski berawal dari grosir, seluruh produk Peter Nation terjamin dengan quality control dan bisa ditukar jika ada kerusakan.

"Karena bikin sendiri, harganya bisa di-press," katanya.

Hendra mengatakan, ke depan, brandnya masih akan fokus pada busana pria. Ekspansi pun akan dilakukan dengan menambah koleksi menggunakan bahan premium lain.

Bagi Hendra, menjaga kinerja bisnis di tengah pandemi berarti pengusaha harus berani memberikan yang terbaik bagi konsumen, salah satunya dengan beradaptasi terhadap teknologi.

Diketahui, pemerintah menargetkan 39 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masuk ekosistem digital pada 2024. Dengan adanya upaya digitalisasi ini, diharapkan struktur ekonomi nasional yang didominasi UMKM bisa membaik.

Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, saat ini, baru 19 persen atau sekitar 12 juta UMKM yang melek digital. Pemasaran digital dinilai sebagai kunci utama pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi.

Selama pandemi, transaksi digital tercatat mencapai 3,1 juta transaksi per hari atau meningkat 26 persen. Tingginya angka tersebut menunjukkan kesepatan go digital bagi UMKM masih terbuka lebar. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD