AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26126.93
0.42%
+109.40
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
17132.22
0.29%
+49.07
Kurs
HKD/IDR 1,814
USD/IDR 14,120
Emas
813,779 / gram

Jadi Korban PHK Imbas Pandemi, Tiyo Banting Setir Buat Peti Mati Khusus Jenazah Covid-19

INSPIRATOR
Azhari Sultan/Kontri
Rabu, 04 Agustus 2021 21:07 WIB
Diakui Tiyo, hingga saat ini belum mendengar adanya Bantuan Langsung Tunai (BLT) subsidi gaji dari pemerintah sebesar Rp1 juta.
Jadi Korban PHK Imbas Pandemi, Tiyo Banting Setir Buat Peti Mati Khusus Jenazah Covid-19. (Foto: MNC Media/Azhari Sultan)
Jadi Korban PHK Imbas Pandemi, Tiyo Banting Setir Buat Peti Mati Khusus Jenazah Covid-19. (Foto: MNC Media/Azhari Sultan)

IDXChannel - Dampak diberlakukannya penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 di Kota Jambi saat ini dirasakan Tiyo (18) warga Kumpeh, Kabupaten Muarojambi, Jambi.

Tidak hanya dirumahkan pada awal tahun lalu, upaya untuk membantu perekonomian keluarga pupus sudah. Sejak itu, anak tertua dari dua bersaudara tersebut menganggur dan tidak bisa mencicipi uang hasil jerih keringatnya.

Beruntung, ada kenalannya yang membutuhkan pekerjaan untuk membuat peti jenazah akibat Covid-19. Sejak akhir Juli lalu, dia setiap hari harus menyelesaikan pesanan peti mati.

Diakui Tiyo, hingga saat ini belum mendengar adanya Bantuan Langsung Tunai (BLT) subsidi gaji dari pemerintah sebesar Rp1 juta. "Belum dengar, baru tahu dari Abang lah," ujarnya saat ditemui di lokasi kerjanya di kawasan Marine, Ekajaya, Kota Jambi, Rabu (4/8/2021).

Dengan adanya kabar baik dari pemerintah tersebut, menjadi angin segar untuk menambah isi dompetnya yang selama ini kosong. "Kalau ada, ya Alhamdulillah bang. Bisa bantu biaya keluarga," harapnya.

Selain itu, dirinya berangan-angan mau buka usaha secara mandiri. "Besar juga bang Rp1 juta, bisa aku gunakan untuk modal usaha jual baju online dari rumah," tukasnya.

Namun begitu, saat ini dia bersyukur bisa bekerja di tempat usaha Wendi. Meski membuat peti mati, tapi dia dapat upah Rp100 ribu sehari.

"Kalau gaji dari kerja buat peti mati ini tuk modal jual buah duku. Saat ini kan di Jambi lagi musim duku Kumpeh di Jambi," tuturnya.

Namun begitu, selain baru tahu ada dana BLT dari pemerintah, tapi dia masih kebingungan. "Masih bingung lah bang, gimana cara mendapatkan dana BLT tersebut tuk korban PHK," imbuh Tiyo.

Selanjutnya, dia berharap program tersebut bisa disosialisasikan ke korban PHK. "Baiknya pemerintah mensosialisasikan sehingga masyarakat korban PHK mudah mendapatkan dana tersebut," tukasnya berharap.

Berbeda dengan anak buahnya, Wendi, selaku pemilik usaha produksi peti mati tersebut, mengaku sebelumnya memiliki pangkas rambut.

Lantaran pandemi Covid-19 masih berlangsung, usaha pangkas rambutnya sepi. Pasalnya, langganan pangkas rambutnya adalah anak sekolah. "Kan saat ini, anak sekolah belajar secara daring, jadi sudah tidak terlalu membutuhkan jasanya," ungkapnya.

Beruntung, di tengah keterpurukan ekonomi akibat Covid-19, dirinya mendapatkan tawaran membuat 150 peti jenazah Covid-19.

Karena membutuhkan anak buah, dia menarik kawannya yang jadi korban PHK atau yang lagi menganggur. "Bantu kawan korban Covid-19 daripada nganggur, ya saya ajak produksi peti mati," tukasnya.

Baginya membantu teman yang lagi menganggur adalah kewajiban. "Saya sedih melihat orang susah, apalagi kawan sendiri. Makanya mereka yang menganggur saya ajak gabung. Saya senang lihat orang kerja dan bisa mengarahkan ke yang lebih baik lagi," tuturnya.

Disini, katanya, mereka digaji Rp100 ribu sehari termasuk makannya. "Alhamdulillah ada kerjaan bisa buat dapur ngebul".

Terkait BLT senilai Rp1 juta, Wendi mengapresiasi pihak pemerintah. "Wah bisa untuk modal usaha bila dapat. Saya berharap bisa dapat. Tolong kasih tahu gimana cara dapatnya."

Selanjutnya, keduanya sepakat berharap Covid-19 ini cepat berakhir sehingga perekonomian bisa kembali normal dan tidak ada lagi pemutusan hubungan kerja. (FHM)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD