IDXChannel—Kisah Sulaiman Sulang, seorang wali asuh di Sekolah Rakyat Kabupaten Malang, menarik untuk diulas. Dia adalah seorang pengajar SMK Negeri dari Flores, Nusa Tenggara Timur, yang kini bertugas di Sekolah Rakyat.
Sulaiman hadir dari keluarga sederhana, orang tuanya bekerja sebagai petani. Melansir laman resmi Kementerian Sosial (31/8/2026), dia mengetahui betul rasanya tumbuh dalam keterbatasan, bagaimana pendidikan menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.
“Saya lahir dari keluarga yang enggak mampu, dan bisa sukses, mereka juga harus lebih, mereka harus lebih sukses daripada saya,” pesan Sulaiman pada siswa Sekolah Rakyat.
Lebih jauh, Sulaiman bercerita bahwa dia merantau ke Malang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Perjalanannya selama kuliah tidaklah mudah, dia tinggal menumpang di rumah bibinya dan rela bekerja untuk biaya makan sehari-hari.
“Tapi saya enggak full murni tinggal di bibi saya. Saya sore itu pasti ke rumahnya dosen. Di situ saya membantu cuci piring, siram tanaman setiap sore hari, nyapu halaman. Itu hanya untuk bisa buat makan. Itu saya lakukan hampir empat tahun,” ungkapnya.
Selama berada di rumah salah satu dosen tersebut, Sulaiman belajar banyak hal, salah satunya dia banyak membaca buku dan menulis. Ketika selesai kuliah, Sulaiman aktif menjadi penulis buku dan sempat mendapatkan penghargaan di tingkat Provinsi Jawa Timur.
Di samping menulis buku, Sulaiman juga aktif pada kegiatan konservasi lingkungan melalui inovasi pengolahan limbah sampah. Dia bahkan sempat diundang ke luar negeri untuk memperkenalkan inovasinya.
“Saya selalu ikut pelatihan pengolahan sampah, konservasi. Akhirnya, oleh beberapa NGO dari luar negeri itu mengundang saya ke Malaysia, ke beberapa negara, ke beberapa provinsi,” ujarnya.
Dia berharap pengalaman dalam menulis dan konservasi lingkungan bisa di bagi kepada para siswa Sekolah Rakyat. Baginya, tidak ada yang tidak mungkin dengan kemauan dan niat yang kuat.
“Saya selalu menyampaikan, ini lah anak petani. Bisa menulis buku sebanyak itu, bisa keliling Indonesia, bisa diundang di beberapa negara. Tanpa uang, tanpa ngeluarin duit. Nah itu motivasi-motivasi yang saya sampaikan ke mereka bahwa jangan mudah putus asa karena kita orang nggak punya,” pungkasnya.
Pengalaman Mengajar di Sekolah Rakyat
Satu bulan pertama saat bertugas sebagai Wali Asuh di Sekolah Rakyat, Sulaiman banyak mendampingi anak-anak dengan latar belakang yang beragam dari keluarga yang paling tidak mampu pada Desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
“Rata-rata input siswa kami yang dari Sekolah Rakyat itu memang berasal dari Desil 1 dan 2, artinya rata-rata anak kami itu ada yang sudah putus sekolah,” ungkapnya.
Sulaiman melihat mereka bukan sekadar anak-anak yang membutuhkan ruang kelas untuk belajar. Namun, mereka yang membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan, mengingatkan, dan menemani.
Berbeda dengan sekolah pada umumnya, mendampingi siswa Sekolah Rakyat tidak cukup hanya dengan aturan. Sulaiman mengungkapkan bekerja harus menggunakan hati dan keikhlasan.
“Sekolah Rakyat itu sungguh luar biasa, karena di situ saya belajar masuk surga. Karena di situ, kita mengajarin anak-anak yang memang tidak mampu. Anak-anak yang sudah tidak ada orang tuanya. Anak-anak yang tinggal sama mbah-nya saja. Anak-anak yang hidupnya sebatang kara,” Kata Sulaiman.
Menurutnya, ada tiga hal yang menjadi komitmen seorang Wali Asuh dalam mendampingi anak-anak di Sekolah Rakyat, yakni waktu, tenaga, dan pikiran.
“Waktu, kita bimbing mereka, dampingi mereka. Tenaga, ayo kita membantu mereka, kerja bakti, membantu mereka. Pikiran, ide-ide apa yang kita punya, kita transfer ke mereka,” jelasnya.
Sulaiman memandang tugasnya bukan sekadar pekerjaan. Ia melihatnya sebagai kesempatan untuk memberikan sesuatu kepada anak-anak yang mengingatkan pada dirinya di masa lalu.
(Nadya Kurnia)