Artotel memang mendesain hotel-hotelnya dengan beragam karya seni, terutama seni kontemporer. Sejak dulu Erastus dan Christine ingin mengangkat seniman-seniman lokal. Budget yang dialokasikan untuk para seniman yang berkontribusi biasanya 2 persen dari total nilai proyek. Para seniman itu membuat lukisan, grafiti, dan patung 3D.
Lobi hotel menjadi wadah pameran. Namun ruang publik dan kamar hotel pun didesain artistik, dengan mengusung tema seni kontemporer. Sudah pasti hotel seperti ini digemari anak muda.
Secara tingkatan, hotel-hotel di bawah naungan Artotel adalah hotel bintang 3-4. Namun konsep semua hotel yang dioperasikan oleh Artotel adalah boutique hotel. Dari animo itu, Erastus mulai melebarkan sayap bisnisnya dengan menjadi operator hotel.
Karena satu dekade silam skema funding dari venture capital belum marak hadir di Indonesia, Artotel berekspansi dengan pendanaan dari modal sendiri. Ekspansi ini pun dilakukan perlahan, sesuai ketersediaan modal perusahaan.
“Jadi dari 2011-2015 kami adalah property developer, kemudian setelah 2015 baru kami jadi operator,” sambung Erastus.