Perseroan memperkirakan adanya keuntungan akuntansi hingga Rp570,8 miliar dari transaksi, yang berasal dari selisih nilai wajar aset dan penyesuaian investasi.
Selain itu, ekuitas diproyeksikan meningkat tajam dan rasio utang terhadap modal membaik.
Dari sisi bisnis, JLA memiliki aset strategis berupa lahan sekitar 35 hektare di kawasan Sentul. Lahan tersebut direncanakan untuk dikembangkan menjadi proyek residensial hingga 2031, dengan potensi pendapatan kumulatif mencapai sekitar Rp938 miliar.
Perseroan menilai pengembangan properti di atas lahan tersebut dapat menjadi sumber pertumbuhan baru, di tengah pemulihan sektor rekreasi pascapandemi.
Meski demikian, realisasi proyek tetap bergantung pada pendanaan dan kondisi pasar properti.