Kondisi tersebut turut menekan impor batu bara sepanjang sepuluh bulan pertama tahun ini hingga turun 11 persen secara tahunan.
CGSI menjelaskan bahwa porsi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di China terus menyusut seiring meningkatnya porsi energi terbarukan dalam bauran energi.
Pada September 2025, kontribusi pembangkit berbasis batu bara turun menjadi 63 persen, dari 67 persen pada tahun sebelumnya.
Dengan stok yang tinggi dan kapasitas energi hijau yang makin besar, harga batu bara diperkirakan tetap tertekan dalam enam hingga dua belas bulan ke depan.
CGSI memperkirakan harga batu bara acuan NEWC rata-rata berada di kisaran USD95 per ton pada tahun fiskal 2026 dan turun ke USD90 per ton pada tahun fiskal 2027, dari proyeksi USD110 per ton pada tahun fiskal 2025.