Penurunan harga tersebut membuat proyeksi kinerja emiten batu bara direvisi turun. CGSI memangkas estimasi laba bersih tahun fiskal 2026 untuk UNTR, ITMG, dan PTBA sebesar 4-13 persen karena kombinasi harga jual yang lebih rendah dan kenaikan biaya, terutama bahan bakar.
Sementara itu, AADI justru direvisi naik berkat rata-rata harga jual yang sedikit lebih baik. Secara keseluruhan, laba bersih sektor diperkirakan turun 8 persen secara tahunan pada tahun fiskal 2026, dengan emiten batu bara melemah 16 persen, sedangkan kontraktor tambang seperti UNTR naik tipis 1 persen.
CGSI juga mengingatkan bahwa imbal hasil dividen (dividend yield) sektor ini kemungkinan tidak lagi setinggi tahun-tahun sebelumnya.
“Menurut kami, emiten batu bara kecil kemungkinannya mempertahankan tingkat dividen setinggi tahun-tahun sebelumnya, karena prospek laba yang melemah akan membatasi kemampuan mereka untuk membagikan dividen,” kata analis CGSI.
Dengan proyeksi laba yang menurun, dividend yield sektor tahun fiskal 2025-2026 diperkirakan hanya berada di rentang 4-10 persen, dengan rata-rata sekitar 6-7 persen. AADI disebut sebagai emiten dengan potensi dividend yield tertinggi, yakni 9-10 persen.