sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

APBI Soroti Tantangan Besar Jelang 2026, Intip Prospek Emiten Batu Bara

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
30/11/2025 09:47 WIB
Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI-ICMA) memaparkan dinamika terbaru industri dalam acara Editor Gathering pada Kamis (27/11/2025).
APBI Soroti Tantangan Besar Jelang 2026, Intip Prospek Emiten Batu Bara. (Foto: Freepik)
APBI Soroti Tantangan Besar Jelang 2026, Intip Prospek Emiten Batu Bara. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI-ICMA) memaparkan dinamika terbaru industri dalam acara Editor Gathering pada Kamis (27/11/2025).

Produksi batu bara nasional hingga Oktober 2025 tercatat mencapai 661,18 juta ton, setara 89,38 persen dari target tahunan 739,6 juta ton.

Dalam paparannya, APBI menegaskan bahwa sektor ketenagalistrikan masih menjadi penopang utama permintaan domestik, yakni sebesar 57,52 persen, disusul pemenuhan smelter nasional yang mencapai 29,62 persen.

Pemenuhan kewajiban pasar domestik atau dalam negeri (DMO) telah mencapai 180,98 juta ton atau 75,51 persen dari target 239,6 juta ton tahun ini. Target DMO 2026 ditetapkan sedikit lebih tinggi, yakni 247,08 juta ton.

Di sisi ekspor, realisasi hingga Oktober mencapai 418 juta ton atau 83,6 persen dari target 500 juta ton sepanjang 2025. Meski ekspor masih solid, APBI mengingatkan bahwa permintaan global sedikit bergeser.

Permintaan dari China diperkirakan menurun tahun depan, meski tetap yang tertinggi, sementara India dan beberapa negara ASEAN memberi ruang pertumbuhan. Secara umum, peluang permintaan batu bara tumbuh 0,5 persen secara tahunan pada 2026.

APBI juga menyoroti sejumlah tantangan berat yang berpotensi menekan industri ke depan.

Implementasi biodiesel B40—dan kemungkinan kenaikan ke B50—telah meningkatkan biaya produksi seiring dihapusnya subsidi Non-PSO, yakni segmen energi yang tidak mendapat dukungan harga dari pemerintah sehingga selisih biaya harus ditanggung pelaku usaha.

Jika mandatori naik menjadi B50, beban industri diperkirakan bertambah, baik dari sisi pembiayaan maupun faktor teknis.

Rencana penerapan pajak ekspor batu bara pada 2026 menjadi sorotan berikutnya. APBI mengusulkan agar pengenaan pajak hanya berlaku ketika industri menikmati windfall profit, bukan saat pasar sedang tertekan seperti kondisi saat ini.

Potensi penurunan produksi juga jadi perhatian, karena dapat mengganggu kontrak jangka panjang, mengurangi pangsa Indonesia di pasar global, serta menekan penerimaan negara.

APBI menegaskan bahwa menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan tetap penting. Namun Indonesia, ujar mereka, adalah negara market driven, bukan market maker, sehingga dinamika global harus dipantau dengan cermat.

Isu pertambangan tanpa izin (PETI) kembali mencuat sebagai masalah serius. Aktivitas PETI di sejumlah konsesi menyebabkan kerugian finansial dan lingkungan, sekaligus menggerus penerimaan negara. Praktik pencurian batu bara juga turut menambah beban pelaku usaha legal.

APBI memaparkan pula tantangan spesifik di masing-masing wilayah.

Di Sumatra, pelaku industri menghadapi larangan penggunaan jalan umum bagi truk tambang mulai Januari 2026, jarak tambang yang jauh dari pelabuhan, serta pembatasan jam pelayaran di Sungai Musi.

Pendangkalan Pelabuhan Pulau Baai juga membatasi kapasitas kapal sehingga pengerukan mendesak dilakukan. Masalah PETI turut menjadi isu yang belum tertangani tuntas.

Di Kalimantan, delineasi wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) ring 3 masih memicu ketidakpastian perizinan. Tarif ship-to-ship (STS) di Muara Berau yang dinilai bersifat monopoli menambah beban logistik. Rencana penetapan kontribusi PPM oleh Pemprov Kalimantan Timur sebesar Rp5.000-Rp10.000 per ton juga menambah biaya.

Pendangkalan Sungai Mahakam di kawasan Benanga membuat tongkang kerap terhenti saat air surut, memicu keterlambatan ekspor dan biaya demurrage. PETI kembali menjadi masalah yang turut merusak reputasi industri.

Prospek Emiten Batu Bara

Harga batu bara diperkirakan masih berada di bawah tekanan dalam beberapa waktu ke depan, seiring lemahnya permintaan dari China, tingginya stok domestik, dan meningkatnya porsi energi terbarukan dalam bauran listrik negeri tersebut.

Tren ini menahan ruang kenaikan harga dan membuat prospek kinerja emiten batu bara ikut tergerus, sekaligus menurunkan potensi imbal hasil dividen yang selama ini menjadi daya tarik utama bagi investor.

Dalam riset CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) yang terbit pada 24 November 2025, analis mencatat persediaan batu bara di China masih tinggi, mencapai 714 juta ton pada Oktober 2025, jauh di atas rata-rata lima tahunan sebesar 428 juta ton.

Kondisi tersebut turut menekan impor batu bara sepanjang sepuluh bulan pertama tahun ini hingga turun 11 persen secara tahunan.

CGSI menjelaskan bahwa porsi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di China terus menyusut seiring meningkatnya porsi energi terbarukan dalam bauran energi.

Pada September 2025, kontribusi pembangkit berbasis batu bara turun menjadi 63 persen, dari 67 persen pada tahun sebelumnya.

Dengan stok yang tinggi dan kapasitas energi hijau yang makin besar, harga batu bara diperkirakan tetap tertekan dalam enam hingga dua belas bulan ke depan.

CGSI memperkirakan harga batu bara acuan NEWC rata-rata berada di kisaran USD95 per ton pada tahun fiskal 2026 dan turun ke USD90 per ton pada tahun fiskal 2027, dari proyeksi USD110 per ton pada tahun fiskal 2025.

Penurunan harga tersebut membuat proyeksi kinerja emiten batu bara direvisi turun. CGSI memangkas estimasi laba bersih tahun fiskal 2026 untuk UNTR, ITMG, dan PTBA sebesar 4-13 persen karena kombinasi harga jual yang lebih rendah dan kenaikan biaya, terutama bahan bakar.

Sementara itu, AADI justru direvisi naik berkat rata-rata harga jual yang sedikit lebih baik. Secara keseluruhan, laba bersih sektor diperkirakan turun 8 persen secara tahunan pada tahun fiskal 2026, dengan emiten batu bara melemah 16 persen, sedangkan kontraktor tambang seperti UNTR naik tipis 1 persen.

CGSI juga mengingatkan bahwa imbal hasil dividen (dividend yield) sektor ini kemungkinan tidak lagi setinggi tahun-tahun sebelumnya.

“Menurut kami, emiten batu bara kecil kemungkinannya mempertahankan tingkat dividen setinggi tahun-tahun sebelumnya, karena prospek laba yang melemah akan membatasi kemampuan mereka untuk membagikan dividen,” kata analis CGSI.

Dengan proyeksi laba yang menurun, dividend yield sektor tahun fiskal 2025-2026 diperkirakan hanya berada di rentang 4-10 persen, dengan rata-rata sekitar 6-7 persen. AADI disebut sebagai emiten dengan potensi dividend yield tertinggi, yakni 9-10 persen.

CGSI menilai pasar masih memiliki ekspektasi dividen yang terlalu tinggi karena konsensus Bloomberg belum sepenuhnya mencerminkan penurunan estimasi laba. Perbedaan estimasi yang cukup besar itu menjadi salah satu alasan lembaga riset ini menurunkan pandangan sektor.

Sejalan dengan prospek harga yang lesu dan profil dividen yang kurang menarik, CGSI menurunkan rekomendasi sektor batu bara menjadi underweight.

Riset tersebut menilai masih ada risiko penurunan lebih lanjut pada harga batu bara dan kemungkinan investor belum mengantisipasi penyesuaian dividen.

CGSI memberi rekomendasi reduce untuk ITMG dan PTBA, menurunkan AADI menjadi hold, serta mempertahankan rating hold untuk UNTR.

Sebagai informasi, dalam kamus CGSI, underweight sektor tersebut diperkirakan akan berkinerja lebih buruk dibanding pasar secara keseluruhan.  

Dengan kata lain, saham-saham dalam sektor itu dipandang kurang menarik dan berpotensi memberikan hasil investasi yang negatif jika dihitung berdasarkan total kapitalisasi pasarnya.

Rekomendasi reduce menunjukkan bahwa harga saham diperkirakan turun dalam 12 bulan ke depan. Investor disarankan mengurangi porsi kepemilikan karena potensi imbal hasilnya diperkirakan berada di bawah 0 persen.

Sementara, rekomendasi hold berarti saham diperkirakan memberikan imbal hasil yang relatif datar hingga positif ringan dalam 12 bulan ke depan, yaitu antara 0 persen hingga sekitar 10 persen. Maksudnya, nvestor dapat mempertahankan kepemilikan, tetapi prospeknya belum cukup kuat untuk disarankan menambah posisi.

Selain itu, valuasi sektor saat ini disebut sudah berada di atas rata-rata price to earnings (rasio P/E) dalam lima tahun terakhir.

Meski demikian, CGSI mencatat adanya potensi katalis positif, antara lain gangguan pasokan di China dan pemangkasan produksi yang lebih agresif di negara eksportir utama, termasuk Indonesia. Harga batu bara yang bergerak lebih tinggi dari perkiraan juga dapat menjadi penopang tambahan bagi sektor ini. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8
Advertisement
Advertisement