AALI
9650
ABBA
222
ABDA
5500
ABMM
2140
ACES
775
ACST
160
ACST-R
0
ADES
6225
ADHI
755
ADMF
8000
ADMG
170
ADRO
2720
AGAR
316
AGII
2000
AGRO
660
AGRO-R
0
AGRS
120
AHAP
55
AIMS
256
AIMS-W
0
AISA
140
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1425
AKRA
960
AKSI
284
ALDO
820
ALKA
298
ALMI
290
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/07/01 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
519.46
-1.84%
-9.76
IHSG
6794.33
-1.7%
-117.25
LQ45
974.33
-1.78%
-17.61
HSI
0.00
-100%
-21996.89
N225
25935.62
-1.73%
-457.42
NYSE
0.00
-100%
-14599.59
Kurs
HKD/IDR 1,904
USD/IDR 14,960
Emas
863,215 / gram

Asing ‘Cabut’ Enam Hari Beruntun, Khawatir Aksi The Fed dan Resesi?

MARKET NEWS
Aldo Fernando - Riset
Jum'at, 24 Juni 2022 13:42 WIB
Asing kembali melakukan aksi jual bersih (net sell) pagi ini, Jumat (24/6/2022), melanjutkan tren sejak Jumat pekan lalu (17/6).
Asing ‘Cabut’ Enam Hari Beruntun, Khawatir Aksi The Fed dan Resesi?
Asing ‘Cabut’ Enam Hari Beruntun, Khawatir Aksi The Fed dan Resesi?

IDXChannelInvestor asing masih belum berhenti keluar dari bursa saham RI. Asing kembali melakukan aksi jual bersih (net sell) pagi ini, Jumat (24/6/2022), melanjutkan tren sejak Jumat pekan lalu (17/6).

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), per penutupan sesi I Jumat (24/6), investor asing melakukan jual bersih Rp188,54 miliar di pasar reguler.

Di tengah tekanan dari asing, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap menguat 0,83% ke 7056,89. IHSG melanjutkan penguatan tipis 0,20% pada Kamis kemarin (23/6). Dengan ini IHSG hanya sekali melemah (pada Rabu) dan, sejurus dengan itu naik, 1,74% dalam sepekan.

Ini mengindikasikan bahwa selama sepekan ini IHSG tetap kokoh kendati asing terus menerus melakukan net sell sejak Jumat lalu (17/6).

Pada Jumat minggu sebelumnya (17/6), asing melakukan penjualan bersih dengan nilai jumbo sebesar Rp1,2 triliun di pasar reguler.

Aksi ini kembali dilakukan pada Senin (20/6), yang sebesar Rp842,84 miliar.

Kemudian pada Selasa (21/6), asing kembali keluar dari bursa saham RI dengan nilai net sell Rp354,64 miliar di pasar reguler.

Selanjutnya, pada Rabu (22/6) dan Kamis (23/6), asing kembali melakukan net sell masing-masing Rp258 miliar dan Rp311,45 miliar di pasar reguler. (Lihat tabel di bawah ini.)

Sumber: BEI, RTI (diolah), per sesi I 24 Juni 2022

Selama sepekan ini, asing memang tercatat menjual sejumlah  saham big cap (terutama dengan eksposur asing cenderung lebih besar tinimbang lokal).

Untuk menyebut beberapa, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) terkena net sell mencapai Rp263,3 miliar selama sepekan dan harganya turun 1,14%.

Selain BBRI, duo bank raksasa BUMN, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) membukukan net sell Rp26,7 miliar dan Rp10,4 miliar di pasar reguler selama seminggu terakhir.

Asing juga banyak melego saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan nilai jual bersih Rp188,8 miliar sepekan. Harga saham TLKM sendiri tetap naik 0,97% sepekan.

Asing Khawatir Efek The Fed?

Aksi lego asing akhir-akhir ini terjadi di tengah iklim kenaikan suku bunga global, yang dipimpin oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed).

Secara umum, aksi ‘galak’ sejumlah bank sentral, termasuk di daratan Eropa, bertujuan untuk mengekang inflasi yang meninggi di tengah macetnya pasokan global dan perang di Ukraina.

The Fed, misalnya, bersungguh-sungguh untuk mengerem pertumbuhan ekonomi demi menekan inflasi dengan menaikkan suku bunga acuan (the fed funds rate) pada medio Juni lalu sebesar 0,75%, kenaikan tertinggi hampir 30 tahun.

Efek dari aksi kerek bunga tersebut sudah terlihat di bursa saham AS Wall Street, di mana 3 indeks utama jeblok sepanjang tahun ini. Dow Jones Index, misalnya, turun 16,15%.

Kesungguhan Jerome Powell tampaknya tidak main-main.

Bahkan, menjawab pertanyaan Senator dari Partai Demokrat, Elizabeth Warren, dalam pertemuan di Washington, Rabu (22/6), sang Ketua The Fed tersebut mengakui , potensi resesi sangat memungkinkan untuk dapat terjadi pada kondisi saat ini.

Namun, Powell juga menekankan bahwa hal itu merupakan konsekuensi logis dari upaya The Fed untuk menekan posisi inflasi.

"(Kondisi) Itu (terjadinya resesi) sama sekali bukan hasil yang kami inginkan, tapi tentu itu sebuah kemungkinan (yang bisa terjadi)," ujar Powell.

Aksi pamer ‘otot’ ala Powell atau, meminjam istilah seorang investor, Powell Power, pun tampaknya belum berakhir. Ini terlihat dari polling teranyar Reuters.

Menurut ekonom yang disurvei Reuters, selama 17-21 Juni, The Fed akan menaikkan suku bungan 75 basis poin (bps) atau 0,75% pada pertemuan Juli, diikuti 0,50% pada September.

 Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Sejauh ini pemerintah, salah satunya Bank Indonesia (BI), masih pede dengan ekonomi RI di tengah tekanan eksternal dan naiknya inflasi dalam negeri.

Kemarin, BI kembali menahan suku bunga acuan di level 3,50%, terendah di dalam sejarah RI. Ini artinya, BI sudah menahan suku bunga selama 16 bulan.

Dalam bahasa BI di siaran pers, hal tersebut merupakan ‘sinergi menjaga stabilitas dan memperkuat pemulihan’ ekonomi.

BI bilang, keputusan tersebut “sejalan dengan perlunya pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar, serta tetap mendukung pertumbuhan ekonomi, di tengah naiknya tekanan eksternal terkait dengan meningkatnya risiko stagflasi di berbagai negara”.

BI juga mengakui, ketidakpastian ekonomi global diprakirakan masih akan tinggi seiring dengan makin mengemukanya risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan inflasi global, termasuk sebagai akibat dari makin meluasnya kebijakan proteksionisme terutama pangan, yang ditempuh oleh berbagai negara.

Perry Warjiyo cs melihat, perekonomian RI diprakirakan terus melanjutkan perbaikan beriringan dengan peningkatan permintaan domestik di tengah tetap positifnya kinerja ekspor. 

Sejurus dengan itu, pertumbuhan ekonomi 2022 diprakirakan tetap berada dalam kisaran proyeksi Bank Indonesia pada 4,5-5,3%.

Selain itu, menurut penjelasan BI, transaksi berjalan kuartal II 2022 diprakirakan mengalami surplus, melanjutkan capaian surplus pada kuartal sebelumnya.

“Perkembangan ini didukung oleh berlanjutnya surplus neraca perdagangan seiring kinerja ekspor pada sebagian besar komoditas utama yang tetap kuat, di tengah peningkatan defisit neraca jasa seiring dengan meningkatnya jasa transportasi perjalanan ke luar negeri,” jelas BI.

Informasi saja,  pada triwulan I 2022, transaksi berjalan alias current account melanjutkan surplus sebesar USD0,2 miliar (0,1% dari PDB), meskipun lebih rendah dari capaian surplus pada triwulan sebelumnya sebesar USD1,5 miliar (0,5% dari PDB). 

Transaksi berjalan yang masih positif dan diprakirakan mengalami surplus bisa menjadi modal RI di tengah pengetatan a la The Fed.

Mengutip penjelasan Merril dalam publikasi berjudul Capital Market Outlook (21 Juni 2022), salah satu dari 5 kategori untuk menganalisis pasar berkembang (emerging market/EM) adalah soal kerentanan terhadap pengetatan The Fed.

Kerentanan tersebut diukur lewat rasio transaksi berjalan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pasar EM dengan defisit transaksi berjalan yang lebih besar, kata riset Merril, cenderung lebih rentan terhadap tekanan arus modal keluar di tengah aksi kerek bunga The Fed.

Sebaliknya, negara-negara dengan defisit yang lebih kecil atau malah surplus transaksi berjalan bisa tidak terlalu terdampak The Fed.

Halaman : 1 2
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD