Sejak awal 2025, pemerintah telah mengumumkan sejumlah kebijakan baru terkait industri batu bara. Sebagian kebijakan kemudian ditunda, diubah, atau dibatalkan, tetapi harga saham sudah lebih dahulu merespons pengumuman awal tersebut.
Karena dampak kebijakan di masa depan sulit dimasukkan secara akurat ke dalam proyeksi laba, CGSI memberikan diskon valuasi sebesar 0,5 standar deviasi terhadap rata-rata P/E historis masing-masing emiten selama 2008-2025.
Dengan penyesuaian tersebut, sektor batu bara saat ini diperdagangkan pada sekitar 6,3 kali P/E FY27F, lebih rendah dibandingkan rata-rata historis 8,7 kali pada periode ketika harga Indonesian Coal Index 3 (ICI3) berada di kisaran USD70-90 per ton.
AADI jadi pilihan utama
CGSI menilai kombinasi prospek harga batu bara yang relatif tinggi dan ketahanan dividen menjadi alasan untuk menaikkan rating sektor batu bara menjadi neutral.
Di antara emiten yang dicakup, AADI menjadi saham pilihan utama CGSI.
Saham tersebut dinilai memiliki potensi kenaikan paling tinggi menuju target harga, sekaligus diperdagangkan pada valuasi paling rendah, yakni sekitar 4,4 kali P/E FY27F.