IDXChannel - Kebijakan Full Call Auction (FCA) rencananya bakal dievaluasi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).
Langkah ini diambil sejalan dengan agenda tinjauan rutin terhadap semua regulasi di lingkungan bursa, sekaligus mencari celah untuk menyempurnakan dan memperbaiki ketentuan yang saat ini diterapkan.
Pjs Direktur BEI Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa aturan FCA memang masuk dalam daftar kebijakan yang ditinjau secara berkala oleh pihak otoritas. Ia menilai, langkah untuk mendongkrak transparansi pasar bisa memicu efek domino yang harus dikaji secara mendalam, tak terkecuali mengenai seberapa relevan berbagai kriteria yang ada di papan pemantauan khusus.
“FCA akan segera kami evaluasi. Karena sesuai dengan seluruh kebijakan bursa, kami melakukan review secara periodik. Dan FCA juga termasuk yang kami review secara periodik. Kami melihat ada ruang bagi kami untuk melakukan penyempurnaan atau perbaikan atas kebijakan tersebut,” ucap Jeffrey dalam keterangannya di Gedung Bursa Efek Indonesia, dikutip Minggu (22/2/2026).
Untuk diketahui, sistem FCA adalah sebuah metode transaksi untuk saham-saham yang menghuni Papan Pemantauan Khusus. Dalam sistem ini, proses jual beli tidak berjalan berkesinambungan (continuous), melainkan melalui skema pengumpulan order atau lelang yang nantinya akan dicocokkan pada jam-jam tertentu dengan patokan satu harga tunggal.
Sistem ini sebelumnya sempat memicu perbincangan hangat karena beberapa emiten di BEI, termasuk emiten yang tadinya digadang-gadang masuk ke dalam daftar indeks global semacam FTSE, yang dianggap bisa terpengaruh status kelayakannya sebagai anggota indeks.
Aturan FCA dipandang punya celah yang bisa menekan tingkat likuiditas sekaligus mendongkrak volatilitas transaksi, khususnya untuk saham-saham di papan pemantauan khusus.
Pada akhirnya, kondisi ini dikhawatirkan berimbas pada rapor penilaian dari lembaga penyedia indeks global.
Jeffrey tidak menutup peluang bahwa mekanisme ini bisa saja dirombak, bahkan ada kans untuk mengembalikannya ke format transaksi reguler atau perdagangan berkelanjutan (continuous trading). Biarpun begitu, dirinya menggarisbawahi bahwa prioritas otoritas bursa saat ini adalah menjalankan kajian komprehensif terkait FCA tersebut.
“Sangat mungkin. Tapi poinnya adalah FCA akan direview,” tegasnya.
Mengenai fokus evaluasinya nanti, Jeffrey mengisyaratkan bahwa perombakan yang bakal diterapkan ke depannya cenderung mengarah pada pemangkasan sejumlah kriteria, bukan malah memperbanyaknya.
“Most likely pengurangan, tidak akan ada penambahan,” tuturnya.
Walaupun begitu, ia belum bisa memberikan kepastian mengenai nasib sistem lelang ini, apakah bakal terus dipakai atau mengalami penyesuaian. Keputusan akhirnya baru akan diumumkan ke publik jika seluruh tahapan evaluasi telah rampung dikerjakan.
Lebih lanjut, Jeffrey menyebutkan bahwa tenggat waktu penyelesaian kajian FCA ini juga belum dapat dipastikan. Pasalnya, BEI tengah mendahulukan agenda pengembangan pasar modal yang berkaitan dengan kemitraan bersama pengelola indeks dunia, semisal MSCI dan FTSE.
“Karena saat ini kita masih fokus dengan pengembangan untuk FTSE dan MSCI, evaluasi FCA secepat-cepatnya akan kita lakukan di kuartal ke-II,” ucap dia. (Wahyu Dwi Anggoro)