IDXChannel - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat masih terdapat 15 perusahaan dalam antrean pencatatan saham atau pipeline initial public offering (IPO) hingga 22 Mei 2026. Mayoritas calon emiten yang bersiap melantai di bursa berasal dari kelompok aset skala besar, mencerminkan masih terjaganya minat perusahaan untuk mencari pendanaan melalui pasar modal di tengah dinamika pasar.
Berdasarkan data BEI, hingga 22 Mei 2026 baru terdapat satu perusahaan yang mencatatkan saham di bursa dengan dana dihimpun mencapai Rp0,30 triliun. Sementara itu, dari total 15 perusahaan yang masuk pipeline IPO, sebanyak 11 perusahaan atau sekitar 73,3 persen berasal dari kategori aset skala besar dengan nilai aset di atas Rp250 miliar.
Selain itu terdapat empat perusahaan aset skala menengah dengan aset Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, sedangkan belum terdapat perusahaan kategori aset kecil dengan nilai aset di bawah Rp50 miliar.
Secara sektoral, pipeline IPO masih didominasi sektor Consumer Cyclicals, Consumer Non-Cyclicals, dan Healthcare yang masing-masing berkontribusi tiga perusahaan. Selain itu terdapat dua perusahaan sektor Infrastructures, dua perusahaan Technology, satu perusahaan Energy, dan satu perusahaan Financials.
Di sisi lain belum terdapat calon emiten dari sektor Basic Materials, Industrials, Properties & Real Estate, serta Transportation & Logistic.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan pipeline pencatatan saham menunjukkan pasar modal Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan dengan minat perusahaan dari berbagai sektor industri.
"Hingga saat ini terdapat 15 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI. Sebagai informasi, terdapat 11 perusahaan aset skala besar, empat perusahaan aset menengah, dan tidak terdapat perusahaan aset skala kecil," ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, dalam keterangannya yang dikutip pada Minggu (24/5/2026).
Selain IPO, aktivitas penggalangan dana di pasar modal juga terlihat pada instrumen efek bersifat utang dan sukuk (EBUS). Hingga saat ini telah diterbitkan 62 emisi dari 40 penerbit dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp68,10 triliun. Sementara terdapat 47 emisi dari 33 penerbit yang masih berada dalam pipeline.
Sektor Financials menjadi penyumbang terbesar pipeline EBUS dengan 12 perusahaan, disusul Infrastructures tujuh perusahaan dan Energy enam perusahaan. Selanjutnya terdapat dua perusahaan Basic Materials, dua Consumer Non-Cyclicals, dua Industrials, satu Healthcare, dan satu Technology.
Adapun dari aksi korporasi rights issue, per 22 Mei 2026 telah terdapat empat perusahaan tercatat yang menerbitkan rights issue dengan total nilai Rp3,89 triliun. Saat ini masih terdapat satu perusahaan dalam pipeline rights issue yang berasal dari sektor Properties & Real Estate.
(Shifa Nurhaliza Putri)