Pendapatan segmen ini tumbuh 77,8 persen secara tahunan dari USD59,6 juta, sementara laba kotornya naik 91,9 persen menjadi USD17,6 juta dari USD9,2 juta. Margin kotor turut meningkat menjadi 16,6 persen dari sebelumnya 15,4 persen.
Analis Ciptadana Sekuritas Rizal Rafly menilai, peningkatan kontribusi bisnis pengelolaan limbah menjadi perkembangan penting karena menunjukkan bahwa sumber earnings TOBA mulai bergeser dari bisnis berbasis komoditas menuju bisnis dengan karakter pendapatan yang lebih berulang.
“Kalau sebelumnya investor melihat TOBA terutama sebagai perusahaan yang sangat terkait dengan batu bara, sekarang profilnya mulai berubah. Ketika waste management sudah menyumbang sebagian besar EBITDA, artinya sumber laba operasional perseroan mulai memiliki basis yang berbeda dari sebelumnya,” kata Rizal.
Secara keseluruhan, bisnis non-batu bara yang mencakup pengelolaan limbah dan ekosistem kendaraan listrik menyumbang 66,5 persen dari pendapatan konsolidasi TOBA pada semester I-2026.
Porsinya lebih dari dua kali lipat dibandingkan kontribusi bisnis batu bara yang berada di level 31,4 persen.