IDXChannel - Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Jumat (13/3/2026), tertekan lonjakan harga minyak di tengah kekhawatiran konflik Timur Tengah yang berkepanjangan dapat mengganggu pasokan energi dan membebani ekonomi global.
Menurut data pasar, Nikkei 225 Jepang kembali merosot 0,82 persen, sementara indeks yang lebih luas, Topix, melemah terkoreksi 0,10 persen.
Melansir dari Trading Economics, Gubernur Bank of Japan (BOJ), Kazuo Ueda, memperingatkan bahwa pelemahan yen dapat memperbesar tekanan inflasi impor ketika harga minyak naik.
Kondisi ini berpotensi mendorong bank sentral Jepang mempercepat normalisasi kebijakan moneternya.
Shanghai Composite juga terdepresiasi 0,10 persen, Hang Seng Hong Kong minus 0,49 persen, dan KOSPI Korea Selatan jatuh 1,32 persen.
Berbeda, ASX 200 Australia menguat 0,24 persen dan STI Singapura naik 0,08 persen.
Di Amerika Serikat (AS), indeks Wall Street pada Kamis waktu setempat setelah serangan Iran terhadap dua kapal tanker minyak memicu lonjakan harga minyak mentah mendekati USD100 per barel.
Lonjakan ini memperburuk kekhawatiran inflasi dan mendorong investor meninggalkan pasar saham.
Ketiga indeks utama Wall Street turun lebih dari 1,5 persen dalam aksi jual luas.
Hampir seluruh sektor terkoreksi tajam, kecuali energi dan sebagian saham defensif. S&P 500 bahkan mencatat penurunan persentase tiga hari terbesar dalam sebulan terakhir.
Mengutip Reuters, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, kembali menegaskan komitmennya untuk tetap menutup Selat Hormuz.
International Energy Agency (IEA) juga memperingatkan bahwa perang yang melibatkan Iran memicu gangguan pasokan minyak terbesar sepanjang sejarah, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global.
Kontrak minyak mentah WTI ditutup melonjak 9,7 persen dalam sehari, sementara Brent naik 9,2 persen dan sempat menyentuh USD100 per barel.
Sementara itu, pemerintahan Presiden AS Donald Trump disebut telah meminta perusahaan minyak dan pelayaran AS bersiap menghadapi kemungkinan pengabaian sementara Jones Act, undang-undang pelayaran domestik yang telah berlaku lebih dari satu abad. Langkah ini dipertimbangkan sebagai upaya meredam kenaikan harga bahan bakar.
Dow Jones Industrial Average turun 1,56 persen ke 46.677,85. S&P 500 melemah 1,52 persen ke 6.672,58, sedangkan Nasdaq Composite jatuh 1,78 persen ke 22.311,98. (Aldo Fernando)