Ekspor tercatat tumbuh 11,7 persen secara tahunan, sementara impor naik 10,9 persen, mencerminkan permintaan yang tetap solid meski tekanan eksternal meningkat.
Berbeda dengan Jepang, pasar saham Korea Selatan tertekan. Indeks KOSPI turun 0,9 persen ke sekitar 6.330, terkoreksi dari posisi tertinggi sepanjang masa.
Sentimen investor terbebani oleh mandeknya pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang mendorong harga energi tetap tinggi dan meningkatkan beban bagi ekonomi Korea Selatan yang bergantung pada impor.
Kekhawatiran inflasi domestik turut menambah tekanan, setelah harga produsen naik 1,6 persen pada Maret, laju tercepat dalam hampir empat tahun, dipicu lonjakan harga produk minyak bumi dan bahan kimia.
Di sisi korporasi, prospek penurunan laba juga membayangi, dengan Hyundai Motor Company dan Kia Corporation diperkirakan mencatat penurunan laba operasional lebih dari 20 persen akibat tarif AS dan kenaikan biaya terkait nilai tukar.