sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Cukai Rokok Berpotensi Tak Naik, Margin HMSP hingga GGRM Bisa Membaik

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
28/09/2026 06:29 WIB
Margin emiten rokok berpotensi membaik pada tahun fiskal 2027 jika pemerintah kembali tidak menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT).
Cukai Rokok Berpotensi Tak Naik, Margin HMSP hingga GGRM Bisa Membaik. (Foto: Getty Images)
Cukai Rokok Berpotensi Tak Naik, Margin HMSP hingga GGRM Bisa Membaik. (Foto: Getty Images)

IDXChannel - Margin emiten rokok berpotensi membaik pada tahun fiskal 2027 jika pemerintah kembali tidak menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT).

Kondisi tersebut dapat meredam tekanan kenaikan harga jual sekaligus memberi ruang bagi profitabilitas PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) di tengah daya beli masyarakat yang masih lemah.

Analis Indo Premier Sekuritas Andrianto Saputra dan Nicholas Bryan dalam riset yang terbit pada 23 September 2026 memperkirakan tidak ada kenaikan cukai rokok pada 2027 (FY27F).

Perkiraan tersebut didasarkan pada hasil channel check dengan pelaku industri serta pembacaan terhadap rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.

Dalam RAPBN 2027, pemerintah menargetkan penerimaan cukai tumbuh hanya 0,4 persen secara tahunan menjadi Rp235,3 triliun.

Menurut analis, target tersebut mengindikasikan tingginya kemungkinan penyesuaian cukai rokok yang relatif terbatas pada FY27F.

Analis menilai pemerintah kini lebih berfokus pada pengendalian konsumsi rokok ilegal.

Kenaikan tarif cukai yang lebih tinggi dinilai berpotensi kurang efektif dalam menekan konsumsi secara keseluruhan karena dapat mendorong konsumen beralih ke rokok dengan harga lebih rendah maupun produk ilegal.

Potensi tidak adanya kenaikan cukai juga dapat memberikan ruang bagi produsen untuk menahan kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP).

Hal ini penting karena kenaikan harga yang terlalu agresif dapat semakin menekan volume penjualan ketika daya beli masyarakat masih tertekan.

Survei harga Indo Premier menunjukkan kenaikan harga produk HMSP dan GGRM hingga Agustus 2026 masing-masing hanya 2,3 persen dan 0,5 persen secara year to date (YTD).

Angka tersebut jauh di bawah rata-rata tiga tahun masing-masing sebesar 5,4 persen dan 4,7 persen.

Penyesuaian harga yang terbatas tersebut terjadi setelah pemerintah tidak menaikkan cukai pada tahun fiskal 2026 (FY26). Kondisi tersebut turut membantu meredam tekanan terhadap volume penjualan HMSP.

Pada semester I-2026, volume penjualan HMSP turun 1,2 persen secara tahunan, lebih baik dibandingkan rata-rata penurunan tiga tahun sebesar 2,4 persen.

Sementara itu, volume penjualan GGRM turun 13,1 persen, meski penurunannya lebih ringan dibandingkan rata-rata tiga tahun sebesar 16,6 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan fenomena downtrading masih berlangsung, terutama pada segmen pasar GGRM, seiring lemahnya daya beli konsumen.

Dari sisi laba, sensitivitas terhadap ASP juga cukup besar. Indo Premier memperkirakan setiap kenaikan ASP sebesar 1 persen pada segmen sigaret kretek mesin (SKM) dapat meningkatkan laba FY27F HMSP dan GGRM masing-masing sebesar 7,5 persen dan 19,1 persen.

Sensitivitas GGRM lebih tinggi karena margin laba bersih atau net profit margin (NPM) FY27F perusahaan diperkirakan hanya 3,7 persen, dibandingkan HMSP sebesar 6,9 persen.

Dengan margin yang lebih tipis, perubahan ASP memiliki dampak lebih besar terhadap profitabilitas GGRM.

Indo Premier juga melihat potensi perbaikan margin apabila tarif cukai kembali tidak dinaikkan.

Pada periode terakhir ketika cukai tidak mengalami kenaikan pada FY25, gross profit margin (GPM) HMSP dan GGRM meningkat dari masing-masing 15,7 persen dan 9,5 persen pada FY24 menjadi 18,8 persen dan 14,5 persen pada semester I-2026.

Dengan demikian, tarif cukai yang tetap pada FY27F diperkirakan menjadi katalis alias tailwind bagi sektor rokok melalui tekanan harga yang lebih rendah dan peluang perbaikan margin.

Karena itu, Indo Premier mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor rokok. Untuk tahun fiskal 2026, analis memperkirakan laba HMSP dan GGRM masing-masing tumbuh 23 persen dan 111 persen secara tahunan.

HMSP menjadi pilihan utama Indo Premier dengan pertimbangan imbal hasil dividen FY27F yang diperkirakan mencapai 10,7 persen serta peningkatan return on equity (ROE) dari 23,3 persen pada FY25 menjadi 28,2 persen pada FY26F.

Meski demikian, risiko yang perlu diperhatikan adalah lemahnya daya beli yang dapat mendorong downtrading lebih lanjut dan menekan volume penjualan. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement