Menurut Phintraco, kenaikan cukai yang mencapai sekitar 109 persen dalam satu dekade telah menggerus profitabilitas industri rokok.
Namun, Gudang Garam dinilai masih memiliki fondasi bisnis yang kuat berkat jaringan distribusi nasional melalui PT Surya Madistrindo serta dominasi di segmen sigaret kretek mesin (SKM).
Phintraco memperkirakan laba bersih GGRM pada 2026 dapat pulih menjadi sekitar Rp2,5 triliun atau naik 61 persen secara tahunan. Proyeksi itu ditopang penurunan biaya pendanaan, perbaikan operasional bertahap, serta struktur biaya yang mulai membaik.
Selain itu, margin laba kotor GGRM diperkirakan meningkat menuju kisaran 10-11 persen dalam beberapa tahun mendatang seiring stabilnya beban cukai yang selama ini menyumbang lebih dari 80 persen total biaya pokok penjualan.
Dari sisi valuasi, saham GGRM saat ini diperdagangkan di bawah rata-rata historis 10 tahunnya. Phintraco menilai kondisi tersebut membuat valuasi saham relatif menarik di tengah potensi normalisasi laba jangka menengah.