IDXChannel - Kepastian pemerintah tidak menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) hingga 2027 dinilai memberi ruang bagi emiten rokok untuk memperbaiki kinerja setelah bertahun-tahun tertekan lonjakan cukai, lemahnya daya beli, dan perubahan pola konsumsi masyarakat.
BRI Danareksa Sekuritas menilai kebijakan stabilisasi cukai memberi kepastian biaya bagi industri hasil tembakau (IHT), sekaligus membantu menjaga margin keuntungan dan menekan risiko penurunan volume penjualan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya memastikan tarif CHT tidak akan naik hingga 2027. Pemerintah disebut ingin lebih dulu melihat kondisi industri setelah pengetatan pemberantasan rokok ilegal dilakukan.
Selain itu, pemerintah juga mulai memperkuat pengawasan produksi melalui digitalisasi, termasuk pemasangan mesin penghitung produksi di pabrikan rokok guna meningkatkan pengendalian dan kepatuhan industri.
Di tengah sentimen tersebut, analis Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga menilai, PT Gudang Garam (GGRM) mulai menunjukkan tanda pemulihan laba setelah menghadapi tekanan industri sepanjang 2015-2025.
Menurut Phintraco, kenaikan cukai yang mencapai sekitar 109 persen dalam satu dekade telah menggerus profitabilitas industri rokok.
Namun, Gudang Garam dinilai masih memiliki fondasi bisnis yang kuat berkat jaringan distribusi nasional melalui PT Surya Madistrindo serta dominasi di segmen sigaret kretek mesin (SKM).
Phintraco memperkirakan laba bersih GGRM pada 2026 dapat pulih menjadi sekitar Rp2,5 triliun atau naik 61 persen secara tahunan. Proyeksi itu ditopang penurunan biaya pendanaan, perbaikan operasional bertahap, serta struktur biaya yang mulai membaik.
Selain itu, margin laba kotor GGRM diperkirakan meningkat menuju kisaran 10-11 persen dalam beberapa tahun mendatang seiring stabilnya beban cukai yang selama ini menyumbang lebih dari 80 persen total biaya pokok penjualan.
Dari sisi valuasi, saham GGRM saat ini diperdagangkan di bawah rata-rata historis 10 tahunnya. Phintraco menilai kondisi tersebut membuat valuasi saham relatif menarik di tengah potensi normalisasi laba jangka menengah.
Optimisme serupa juga muncul pada PT HM Sampoerna (HMSP). Analis KB Valbury Sekuritas Akhmad Nurcahyadi menilai, kinerja HMSP mulai menunjukkan stabilitas pada kuartal I-2026 meski tekanan industri masih berlangsung.
KB Valbury mencatat laba usaha HMSP naik 3,7 persen menjadi Rp2,49 triliun, sementara laba bersih tumbuh 7,2 persen secara tahunan. Perbaikan tersebut ditopang efisiensi biaya, penurunan beban bunga, serta biaya bahan baku yang lebih rendah.
Segmen SKM masih menjadi penopang utama bisnis HMSP dengan kontribusi sekitar 60,8 persen terhadap total penjualan. Sementara itu, produk bebas asap atau smoke-free products juga mencatat pertumbuhan kuat hingga 43,8 persen secara tahunan meski porsinya masih relatif kecil.
Dari sisi profitabilitas, margin laba kotor HMSP naik menjadi 18,4 persen, sedangkan margin laba bersih meningkat menjadi 7,6 persen. Pangsa pasar HMSP juga tetap terjaga di level 29,1 persen di tengah persaingan industri yang ketat.
Meski demikian, para analis mengingatkan tekanan daya beli masyarakat masih menjadi tantangan utama sektor rokok.
Kondisi itu dinilai dapat mendorong tren downtrading, yakni perpindahan konsumen dari rokok premium ke produk dengan harga lebih terjangkau.
Di tengah tantangan tersebut, stabilisasi cukai dinilai menjadi katalis penting yang memberi ruang bagi emiten rokok untuk memperbaiki margin, menjaga volume penjualan, dan memulai fase pemulihan kinerja secara bertahap. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.