Konsorsium tersebut akan mengembangkan proyek PSEL Surabaya Raya dengan kapasitas pengolahan 1.100 ton sampah per hari.
Menurut Phintraco, proyek tersebut melengkapi portofolio bisnis pembangkitan listrik Bakrie Power yang sebelumnya telah mencakup pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), hingga proyek engineering, procurement, and construction (EPC) untuk pembangkit listrik tenaga surya.
Kehadiran proyek PSEL juga dipandang berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru bagi segmen manufaktur dan infrastruktur BNBR.
Dari sisi valuasi, Phintraco mencatat saham TPIA saat ini diperdagangkan pada rasio price to book value (PBV) sebesar 2,51 kali dan price to earnings ratio (PER) 16,77 kali, lebih tinggi dibandingkan rata-rata subsektor Basic Materials yang masing-masing sebesar 1,26 kali dan 10,72 kali.
Sementara, BNBR diperdagangkan pada PBV 5,25 kali dan PER 45,26 kali, juga berada di atas rata-rata subsektor Multi-Sector Holdings yang tercatat sebesar 0,59 kali untuk PBV dan 5,77 kali untuk PER. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.