sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Dolar Melemah di Tengah Berlanjutnya Ketidakpastian Damai AS-Iran

Market news editor Nia Deviyana
25/05/2026 09:02 WIB
Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada awal perdagangan Asia, Senin (25/5/2026).
Dolar Melemah di Tengah Berlanjutnya Ketidakpastian Damai AS-Iran. Foto: Freepik.
Dolar Melemah di Tengah Berlanjutnya Ketidakpastian Damai AS-Iran. Foto: Freepik.

IDXChannel - Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada awal perdagangan Asia, Senin (25/5/2026). Harapan tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz mendorong harga minyak turun di bawah USD100 per barel, meskipun pemerintahan Trump meredam peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran dalam waktu dekat.

Melansir Reuters, terhadap yen, dolar AS turun 0,2 persen ke 158,87 yen, sementara euro naik 0,3 persen ke USD1.1642 dan poundsterling Inggris menguat 0,4 persen ke USD1.3485.

Dolar Australia naik 0,4 persen ke USD0,7160, sementara dolar Selandia Baru menguat 0,5 persen ke USD0,5877.

Pada akhir pekan, harapan terhadap kesepakatan damai yang berkelanjutan terlihat rapuh. Presiden AS Donald Trump pada Sabtu mengatakan bahwa sebuah nota kesepahaman mengenai kesepakatan damai dengan Iran telah “sebagian besar dinegosiasikan,” dengan kedua negara serta mediator di Pakistan melaporkan adanya kemajuan.

Namun, blokade AS terhadap kapal Iran di Selat Hormuz akan “tetap berlaku penuh sampai ada kesepakatan yang dicapai, disahkan, dan ditandatangani,” tulis Trump di Truth Social pada Minggu. Belum ada tanggapan langsung dari pemerintah Iran.

Pasar minyak jatuh, karena harga Brent turun 5,1 persen menjadi USD98,29 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS berada di USD91,76 per barel, turun 5 persen.

Para trader menyatakan skeptis dan hati-hati mengenai apakah kesepakatan tersebut akan bertahan.

“Pasar sudah terbiasa sangat sabar menunggu terobosan yang nyata, tetapi skenario dasar kesepakatan tetap kuat, dengan berita akhir pekan memberikan keyakinan tambahan, meskipun waktunya masih belum jelas,” kata kepala riset di Pepperstone Group Ltd di Melbourne, Chris Weston.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement