Perseroan juga mencatatkan keuntungan selisih kurs sebesar Rp96 miliar, berbalik dari kerugian kurs Rp34,8 miliar pada 2024.
Dengan perkembangan tersebut, laba sebelum pajak Gajah Tunggal tercatat naik tipis 4,3 persen yoy menjadi Rp1,63 triliun. Setelah memperhitungkan beban pajak sebesar Rp384 miliar, laba bersih tahun berjalan mencapai Rp1,24 triliun.
Dari sisi neraca, total aset perseroan meningkat 5,4 persen menjadi Rp21,67 triliun dari Rp20,56 triliun pada tahun sebelumnya. Aset lancar tercatat turun 5,9 persen menjadi Rp8,79 triliun, terutama dipengaruhi penurunan kas dan setara kas dari Rp1,04 triliun menjadi Rp925 miliar serta penurunan persediaan.
Sebaliknya, aset tidak lancar meningkat 14,8 persen menjadi Rp12,88 triliun, didorong kenaikan aset tetap bersih dari Rp8,96 triliun menjadi Rp10,56 triliun.
Di sisi kewajiban, total liabilitas naik tipis 0,95 persen menjadi Rp11,21 triliun. Liabilitas jangka pendek turun menjadi Rp5,31 triliun dari Rp8,04 triliun, sedangkan liabilitas jangka panjang melonjak 92 persen menjadi Rp5,90 triliun dari Rp3,07 triliun, terutama karena peningkatan utang bank jangka panjang.