Penutupan jalur ini telah menyebabkan sekitar 12 juta barel per hari produksi minyak terhenti, termasuk produk turunan seperti naphta, sulfur, dan LNG.
Pengiriman dari Yanbu melalui pipa East-West Arab Saudi meningkat sekitar 40 persen dibandingkan sebelum perang hingga mencapai sekitar 7 juta barel per hari.
Namun, jalur alternatif tersebut dinilai tidak mampu sepenuhnya menggantikan peran Selat Hormuz dalam jangka panjang.
Data Kpler menunjukkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz baru mencapai sekitar 5-10 kapal per hari, jauh di bawah rata-rata normal sekitar 120 kapal per hari.
Selain itu, gangguan di Selat Bab el-Mandeb juga menjadi risiko tambahan bagi rantai pasok energi global.