Meski demikian, pasar mulai terbiasa dengan dinamika negosiasi yang berubah-ubah.
Dalam skenario ekstrem jika Selat Hormuz tetap tertutup lebih lama, Indo Premier memperingatkan risiko lonjakan harga minyak, kehilangan persediaan hingga sekitar 200 juta barel pada pertengahan April, serta potensi inflasi akibat gangguan pasokan energi.
“Dalam skenario ini, inflasi akibat gangguan pasokan (supply-shock inflation) berpotensi terjadi. Meski dalam jangka pendek seluruh logam kemungkinan tertekan, logam dasar dan emas diperkirakan diuntungkan dalam jangka menengah hingga panjang karena berpotensi memicu supercycle baru sekaligus menjadi aset lindung nilai utama, mirip dengan yang terjadi pada era 1970-an,” tulis Indo Premier.
Untuk strategi perdagangan, Indo Premier merekomendasikan saham MBMA, NCKL, INCO, dan ANTM serta TINS dalam skenario gencatan senjata, karena emiten nikel tersebut dinilai berpotensi pulih setelah sebelumnya tertekan oleh kenaikan biaya energi dan keterbatasan pasokan sulfur dari Timur Tengah. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.