Menurut catatan Indo Premier, dari sisi sektor, sejak perang AS-Iran dimulai pada awal Maret 2026, sektor batu bara menjadi satu-satunya yang mampu mengungguli IHSG.
Sebaliknya, saham logam mulia dan logam dasar seperti AMMN, INCO, NCKL, dan TINS melemah, sementara saham minyak dan gas bergerak terbatas karena sebelumnya sudah mencatatkan kinerja positif sejak awal tahun.
Dalam skenario gencatan senjata, Indo Premier memperkirakan reaksi awal pasar adalah koreksi pada saham energi, sementara saham nikel dan emas berpotensi pulih. Kondisi serupa sempat terlihat pada 1 April ketika narasi gencatan senjata menguat di pasar.
Meski demikian, peluang pada saham energi dinilai tetap terbuka setelah fase koreksi awal. Indo Premier memperkirakan backlog pengiriman minyak membutuhkan waktu satu hingga dua bulan untuk kembali normal.
Sementara persediaan minyak global di laut telah menurun tajam sehingga harga minyak diperkirakan tetap bertahan di kisaran minimal USD85-USD90 per barel.