“Batu bara jelas memiliki persoalan polusi yang serius,” kata Stevenson.
Ia melanjutkan, “Namun, batu bara juga punya sejumlah keunggulan kuat dibandingkan bahan bakar lain, keandalan mungkin yang paling utama. Anda tidak perlu menunggu matahari bersinar atau angin bertiup. Bahan bakarnya sudah tersedia di tempat. Dari sisi rantai pasok, mungkin hanya nuklir yang lebih andal.”
Dalam jangka panjang, Stevenson menilai negara-negara dapat mengambil pelajaran dari situasi ini dengan mengurangi ketergantungan pada sumber energi yang lebih sensitif secara politik seperti gas alam, yang harus diangkut melalui pipa atau kapal dan tidak mudah disimpan.
Pilihan tersebut bisa mencakup batu bara, meski negara seperti di Eropa hampir pasti tidak akan membangun pembangkit batu bara baru.
Gejolak ini juga berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan energi nuklir dan energi terbarukan, yang tidak memerlukan bahan bakar dalam operasionalnya. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.