IDXChannel – Harga batu bara menguat hingga sekitar USD145 per ton pada awal September, mencapai level tertinggi dalam 11 pekan atau lebih dari 2 bulan di tengah kuatnya permintaan energi global dan risiko gangguan pasokan yang masih membayangi pasar.
Mengutip Trading Economics, kenaikan harga batu bara terjadi meskipun China melaporkan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya telah menjadi sumber kapasitas listrik terbesar di negara tersebut, melampaui pembangkit berbahan bakar batu bara untuk pertama kalinya.
Perkembangan ini sejalan dengan dorongan China untuk mempercepat transisi menuju energi terbarukan.
Namun, batu bara masih menjadi sumber terbesar pembangkitan listrik dunia. Komoditas ini menghasilkan hampir 11.000 terawatt-jam (TWh) listrik pada 2026.
Sementara, lonjakan kebutuhan listrik global turut memperlambat upaya menggantikan bahan bakar fosil dengan energi terbarukan.
International Energy Agency (IEA) juga memperkirakan batu bara tetap menjadi sumber tunggal terbesar pembangkitan listrik hingga 2030.
Belum ada satu sumber energi alternatif yang diproyeksikan mampu menggantikan peran batu bara secara signifikan dalam periode tersebut.
Konflik berkepanjangan di Timur Tengah turut memperkuat prospek permintaan batu bara.
Ketegangan tersebut memperketat pasokan LNG global dan mendorong harga energi lebih tinggi, sehingga meningkatkan daya tarik batu bara sebagai sumber energi alternatif.
Berdasarkan The Coal Hub, harga batu bara global terus menguat seiring perusahaan utilitas di Eropa meningkatkan persediaan untuk menghadapi musim dingin, sementara gangguan pasokan memperketat ketersediaan batu bara dari sejumlah negara produsen utama.
Harga batu bara Afrika Selatan bahkan mencapai level tertinggi dalam lima bulan. Sementara itu, aktivitas pemuatan batu bara dari pelabuhan di Laut Hitam dan Laut Azov Rusia nyaris terhenti setelah serangan drone.
Harga batu bara Indonesia juga bergerak naik karena keterlambatan persetujuan kuota RKAB membatasi ketersediaan pasokan di pasar spot. Kondisi kekeringan juga turut menambah tekanan terhadap rantai pasokan.
Sektor Batu Bara Dinilai Undervalued
Sektor batu bara dinilai masih diperdagangkan di bawah nilai wajarnya (undervalued) meski prospek harga komoditas mulai memasuki fase normalisasi.
BRI Danareksa Sekuritas menilai pasar masih memberikan diskon berlebihan terhadap emiten batu bara karena ketidakpastian kebijakan, sementara kondisi fundamental sektor justru bergerak menuju keseimbangan yang lebih sehat.
Dalam riset yang terbit Jumat (28/8/2026) lalu, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor batu bara.
Namun, rekomendasi taktis untuk tiga bulan ke depan diturunkan menjadi netral, seiring ruang kenaikan jangka pendek yang dinilai lebih terbatas.
Dari sisi valuasi, sektor batu bara saat ini diperdagangkan pada price-to-earnings (PE) 6,1 kali, atau sekitar 0,7 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun.
Menurut BRI Danareksa Sekuritas, level tersebut menunjukkan pasar masih memperhitungkan tingkat ketidakpastian kebijakan yang relatif tinggi.
Padahal, tekanan pada sisi pasokan mulai mereda. Impor batu bara China dan India masing-masing turun 3 persen dan 18 persen secara tahunan.
Namun, permintaan dari negara-negara Asia Timur masih cukup menopang pasar, dengan impor Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan masing-masing tumbuh 4 persen, 3 persen, dan 20 persen secara tahunan.
Di sisi lain, Indonesia masih menjadi faktor utama yang mengetatkan pasokan global.
Produksi dan ekspor batu bara Indonesia tercatat turun sekitar 8 persen secara tahunan dalam lima bulan pertama 2026.
Kondisi tersebut membuat pasar batu bara tetap ketat, tetapi belum sampai menciptakan supply shock.
Memasuki semester II-2026, keseimbangan pasokan dan permintaan diperkirakan membaik seiring meredanya tekanan akibat perang serta potensi kenaikan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sebesar 10-12 persen.
BRI Danareksa memperkirakan harga batu bara mengalami normalisasi pada semester II-2026.
Indeks harga batu bara Indonesia, ICI3 dan ICI4, disebut telah mencapai puncaknya pada Juni 2026 dan mulai bergerak moderat.
Meski demikian, normalisasi harga tersebut diperkirakan tidak berubah menjadi penurunan tajam atau collapse.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian utama adalah persetujuan revisi RKAB yang diperkirakan keluar dalam satu hingga 1,5 bulan mendatang.
Persetujuan tersebut menjadi variabel penting karena tambahan kuota produksi berpotensi meningkatkan pasokan domestik dan ekspor.
Sementara itu, kewajiban pasokan domestik atau domestic market obligation (DMO) masih menjadi risiko terhadap harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) dalam jangka pendek.
Di sisi lain, risiko dari PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) diperkirakan mulai mereda.
Dari sisi kinerja keuangan, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan kuartal II-2026 belum akan menunjukkan lonjakan laba yang signifikan bagi emiten batu bara.
Pendapatan diperkirakan membaik secara kuartalan, tetapi kenaikan ASP berpotensi tertinggal dibandingkan kenaikan harga batu bara acuan.
Hal ini terutama disebabkan oleh porsi penjualan DMO yang lebih tinggi.
Di saat yang sama, kenaikan biaya operasi berpotensi mengimbangi sebagian manfaat dari perbaikan pendapatan. Salah satu tekanan terbesar berasal dari harga high-speed diesel (HSD) domestik yang meningkat sekitar 35-40 persen secara kuartalan. (Aldo Fernando)