sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga CPO Mendatar, Pasar Tunggu Data MPOB

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
05/10/2026 15:18 WIB
Harga minyak sawit mentah (CPO) bergerak terbatas pada perdagangan Senin (5/10/2026).
Harga CPO Mendatar, Pasar Tunggu Data MPOB. (Foto: Magnific)
Harga CPO Mendatar, Pasar Tunggu Data MPOB. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) bergerak terbatas pada perdagangan Senin (5/10/2026).

Penguatan harga minyak kedelai di Chicago mengimbangi pelemahan harga minyak mentah.

Sementara pelaku pasar menanti data terbaru dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) di tengah perdagangan yang relatif tipis karena pasar China tutup.

Kontrak berjangka (futures) CPO acuan untuk pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives Exchange bergerak dalam rentang 4.535 ringgit hingga 4.570 ringgit per ton hingga jeda perdagangan siang.

Kontrak tersebut naik 11 ringgit atau 0,24 persen menjadi 4.546 ringgit per ton.

Kepala Riset broker minyak nabati Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, Anilkumar Bagani, mengatakan, seperti dikutip Reuters, perdagangan CPO cenderung bergerak sideways karena pasar China tutup dan pelaku pasar menunggu data permintaan dan pasokan dari MPOB.

Di sisi lain, penguatan kontrak minyak kedelai Chicago turut menopang harga CPO.

Harga minyak mentah Brent melemah seiring meningkatnya ekspor minyak dari Timur Tengah dan rencana pelepasan cadangan minyak oleh negara-negara G7 yang menambah pasokan di pasar.

Kondisi tersebut terjadi di tengah kekhawatiran berlanjutnya kerusakan infrastruktur minyak di kawasan Teluk akibat perang Iran.

Penurunan harga minyak mentah membuat CPO menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.

Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade naik 0,83 persen. Sementara itu, Bursa Komoditas Dalian ditutup untuk libur nasional dan baru kembali dibuka pada 8 Oktober.

Harga CPO turut mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaing karena komoditas tersebut bersaing untuk mendapatkan pangsa pasar minyak nabati global.

Dari sisi mata uang, ringgit yang menjadi mata uang transaksi CPO melemah 0,1 persen terhadap dolar AS.

Kondisi ini membuat CPO sedikit lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.

Sementara itu, Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), perusahaan yang didirikan pemerintah Indonesia untuk mengawasi ekspor komoditas, telah memulai tahap uji coba platform pemantauan baru yang ditujukan untuk meningkatkan transparansi harga. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement