Sementara, kontrak minyak sawitnya bertambah 0,38 persen setelah sempat melemah 0,25 persen sebelumnya.
Minyak sawit cenderung mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaingnya karena bersaing dalam pangsa pasar minyak nabati global.
Ringgit Malaysia, mata uang perdagangan kontrak tersebut, melemah 0,03 persen terhadap dolar AS sehingga membuat minyak sawit lebih murah bagi pemegang mata uang asing.
Harga minyak mentah kembali turun pada Rabu, setelah muncul laporan bahwa Badan Energi Internasional mengusulkan pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarahnya di tengah kekhawatiran potensi gangguan pasokan akibat konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
Pelemahan harga minyak mentah membuat minyak sawit menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.