Direktur broker Pelindung Bestari, Paramalingam Supramaniam, mengatakan memasuki puncak musim produksi pada April, Mei, dan Juni, pelemahan permintaan akibat perang Timur Tengah serta kenaikan biaya pengiriman akan mulai tercermin pada data ekspor periode 1-10 April.
“Jika ekspor gagal mengimbangi kenaikan produksi musiman, stok akhir tidak terhindarkan akan kembali meningkat dan membatasi pemulihan harga dalam jangka pendek. Ekspor harus tetap kuat, tetapi melihat kondisi saat ini, hal tersebut akan sulit,” ujarnya, dikutip Reuters.
Lembaga pemantau kargo diperkirakan merilis estimasi ekspor produk minyak sawit Malaysia untuk periode 1-10 April pada hari yang sama.
Di pasar lain, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,61 persen, sementara kontrak minyak sawitnya bertambah 1,12 persen. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade menguat tipis 0,01 persen.
Minyak sawit cenderung mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaing karena bersaing dalam pangsa pasar minyak nabati global.