Ibrahim menggarisbawahi lima faktor utama yang akan menggerakkan pasar emas pekan depan. Penerapan bea masuk dumping Uni Eropa terhadap alumina China dan ancaman tarif 20 persen oleh AS terhadap Eropa terkait isu Greenland memicu ketidakpastian pasar.
Situasi Iran yang siaga perang serta serangan balasan Ukraina ke wilayah Rusia meningkatkan risiko global. Hadirnya kapal induk AS Abraham Lincoln di Timur Tengah menambah panas atmosfer geopolitik.
Bank sentral di berbagai kawasan, mulai dari China, India, hingga ASEAN, berlomba melakukan pembelian logam mulia secara masif sebagai cadangan di tengah kondisi "gawat".
Pemanggilan Jerome Powell oleh otoritas hukum AS dan spekulasi penurunan suku bunga menjelang masa pensiunnya terus membayangi pergerakan dolar.
Nilai tukar rupiah yang terus tertekan membuat harga beli logam mulia di pasar domestik menjadi lebih mahal.