Perak dan tembaga juga merosot tajam, menegaskan luasnya tekanan jual di pasar logam.
Meski pelaku pasar memperkirakan data inflasi (CPI) mendatang menunjukkan perlambatan dan masih memperhitungkan dua kali pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) tahun ini, arus jangka pendek lebih didominasi deleveraging ketimbang penyesuaian ulang ekspektasi kebijakan.
Untuk emas, harga kembali turun ke bawah USD5.000 per troy ons setelah sempat reli ke kisaran USD5.100 per ons pada pekan ini.
“Kemampuan emas untuk segera kembali menembus level USD5.000 dinilai menjadi indikator utama arah tren jangka pendek,” ujar Fawad Razaqzada dari Forex.com dalam catatannya, dikutip dari Dow Jones Newswires.
Ia menambahkan, "Pasar kini telah menyapu kantong besar likuiditas di sisi bawah, dan pergerakan selanjutnya akan bergantung pada bagaimana harga bereaksi di sekitar level teknikal kunci.”