Namun, harapan de-eskalasi kini bergantung pada nota kesepahaman (MOU) 14 poin yang dimediasi oleh Pakistan dan Qatar. Jika kesepakatan ini gagal, inflasi global dipastikan melonjak akibat gangguan maritim di Selat Hormuz, yang akan memaksa bank sentral dunia mempertahankan suku bunga tinggi.
Penguatan indeks dolar yang diproyeksi Ibrahim tentu menjadi alarm bagi nilai tukar rupiah. Namun, di sisi lain, penguatan dolar ini juga dipicu oleh data lapangan kerja AS bulan April yang solid, yang membuat Ketua Fed Kevin Walsh cenderung mempertahankan suku bunga.
Satu faktor fundamental yang menjaga harga emas tetap tinggi adalah aksi borong oleh Bank Sentral global, terutama China.
“Bank Sentral China memperkuat cadangan devisa nasionalnya, yaitu di kuartal I melakukan pembelian sebanyak 7,15 ton. Dengan tambahan tersebut, China masuk lima besar negara dengan cadangan emas terbesar di dunia, yaitu sebesar 2.313,48 ton,” ujar Ibrahim.
(Dhera Arizona)