Namun, harga kemudian mendingin ke level USD87 per barel pada penutupan Selasa (10/3), meski masih lebih tinggi dibandingkan level sebelum konflik.
RHB menilai perusahaan migas hulu akan menjadi pihak yang paling diuntungkan dari reli harga minyak ini. “Kami tetap menyukai perusahaan hulu seperti MEDC sebagai penerima manfaat utama,” tulis Arandi dalam laporannya.
Selain itu, perusahaan pelayaran tanker juga berpotensi menikmati kenaikan tarif sewa kapal. PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) dinilai bisa meraih keuntungan dari lonjakan tarif charter tanker di tengah gangguan rantai pasok energi global.
Lonjakan tarif ini dipicu penutupan Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia. Tarif Very Large Crude Carrier (VLCC) Time Charter Equivalent (TCE) melonjak hingga sekitar USD135.000 per hari, sementara tarif Aframax TCE naik sekitar 126 persen secara tahunan menjadi USD68.000 per hari.
Kenaikan ini bahkan melampaui level saat konflik Laut Merah pada 2023, ketika tarif rata-rata tanker berada di kisaran USD50.000-USD70.000 per hari dengan puncak sekitar USD90.000-USD100.000 per hari.