“Namun tanpa resolusi politik yang jelas dan tegas, harga minyak Brent diperkirakan bertahan pada level tinggi sekitar USD80 per barel hingga pertengahan tahun,” katanya.
Kasman menambahkan, kondisi tersebut dapat memangkas pertumbuhan ekonomi global sekitar 0,6 persen secara tahunan pada paruh pertama tahun ini, sekaligus mendorong kenaikan harga konsumen sekitar 1 persen.
Ia juga mengingatkan bahwa konflik yang lebih luas dan berkepanjangan dapat mendorong harga minyak jauh melampaui USD120 per barel dan meningkatkan risiko resesi global.
Kabar tersebut menjadi pukulan bagi Jepang, salah satu importir utama minyak dan gas. Indeks Nikkei anjlok 7,5 persen setelah sebelumnya turun 5,5 persen pada pekan lalu.
Pasar saham Korea Selatan (KOSPI) juga terkoreksi tajam dengan penurunan 8,1 persen dan sempat terimbas penghetian perdagangan (trading halt) otomatis, setelah sebelumnya sudah merosot lebih dari 10 persen pada pekan lalu.