Penunjukan itu diperkirakan tidak disambut baik oleh Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya menyebut putra Khamenei tersebut sebagai sosok yang “tidak dapat diterima”.
Dengan belum terlihat tanda-tanda meredanya permusuhan di Timur Tengah dan kapal tanker masih enggan melintasi Selat Hormuz, investor bersiap menghadapi periode panjang biaya energi yang tinggi.
Kepala Ekonom JPMorgan Bruce Kasman menilai perekonomian global masih sangat bergantung pada aliran minyak dan gas alam dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz.
“Perekonomian global tetap bergantung pada aliran terkonsentrasi minyak dan gas alam Timur Tengah melalui Selat Hormuz,” ujarnya, dikutip Reuters.
Menurut Kasman, skenario jangka pendek menunjukkan harga minyak dapat melonjak mendekati USD120 per barel sebelum kemudian mereda jika konflik segera mereda.