Risiko inflasi yang dipicu lonjakan energi membuat pasar mulai berspekulasi bahwa langkah berikutnya dari Bank Sentral Eropa (ECB) justru dapat berupa kenaikan suku bunga, bahkan mungkin terjadi secepatnya pada Juni.
Untuk Bank of England, pasar kini hanya memperkirakan peluang sekitar 40 persen untuk satu kali pelonggaran tambahan, dibanding sebelumnya yang memperkirakan dua kali pemangkasan atau lebih sebelum konflik Timur Tengah meletus.
Di tengah ketidakpastian tersebut, investor cenderung mencari likuiditas dolar AS sambil menghindari mata uang negara-negara pengimpor energi bersih, termasuk Jepang dan sebagian besar negara Eropa.
Kepala Riset Makro Asia (di luar Jepang) di Mizuho, Vishnu Varathan, mengatakan Asia menjadi kawasan yang paling terdampak oleh lonjakan tajam harga minyak.
“Asia menanggung dampak terbesar dari lonjakan harga minyak, dan hampir tidak ada tempat aman untuk berlindung,” ujarnya. (Aldo Fernando)