Kendati demikian, lalu lintas kapal di jalur maritim tersebut masih jauh di bawah tingkat normal sebelum konflik pecah. Analis ING menilai pembukaan kembali Selat Hormuz dapat memberikan sedikit kelegaan bagi pasar minyak dalam jangka pendek, meskipun pemulihan penuh masih belum pasti.
Jepang, yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah, bulan lalu mencatat penurunan impor minyak mentah sebesar 66 persen dibandingkan April tahun lalu.
Commerzbank menaikkan proyeksi harga Brent menjadi USD90 per barel pada akhir September dan USD85 per barel pada akhir tahun.
Proyeksi itu didasarkan pada skenario Selat Hormuz masih belum beroperasi normal selama dua bulan ke depan.
Sementara itu, data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah, bensin, dan produk distilat AS turun pada pekan lalu seiring meningkatnya permintaan dari kilang dan konsumen.
Di saat yang sama, ekspor minyak AS turun 1,16 juta barel per hari menjadi 4,4 juta barel per hari. (Aldo Fernando)