“Pasokan global masih relatif melimpah. Namun, permintaan ternyata sedikit lebih kuat dari perkiraan, dan gelombang udara dingin terbaru telah menghambat produksi minyak AS,” kata Dennis Kissler dari BOK Financial, dikutip Dow Jones Newswires.
“Semua perhatian pasar saat ini tertuju pada Iran,” ujar Partner Again Capital John Kilduff, dikutip dari Reuters.
Kilduff menambahkan, “Pasar sebelumnya sudah memasukkan banyak risiko geopolitik terkait Iran, tetapi saat ini sulit mengukurnya secara pasti. Pertanyaannya, jika benar ada aksi terhadap Iran, apa respons yang akan diambil Teheran?”
Pada Kamis, harga minyak sempat menyentuh level tertinggi sejak awal Agustus. Sejumlah sumber menyebutkan Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan berbagai opsi terhadap Iran, termasuk serangan terbatas, yang memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak global.
Baik AS maupun Iran kemudian menyampaikan sinyal kesiapan untuk berdialog.
Namun, Teheran pada Jumat menegaskan bahwa kemampuan pertahanannya tidak boleh menjadi bagian dari agenda perundingan.