Kekhawatiran ini dipicu oleh harga minyak dunia yang bertahan di atas USD100 per barel seiring meningkatnya tensi geopolitik di Iran.
Selain faktor eksternal, likuiditas pasar juga cenderung menurun menjelang periode Lebaran. Dalam sepekan terakhir hingga Jumat (13/3/2026), rata-rata nilai transaksi harian tercatat hanya sekitar Rp15,2 triliun, jauh di bawah rata-rata harian sepanjang tahun berjalan yang mencapai Rp25,5 triliun. Secara mingguan, IHSG juga telah melemah sekitar 4,3 persen.
Di tengah lonjakan harga minyak, Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa pemerintah hanya akan mempertimbangkan pelebaran defisit APBN di atas 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dalam kondisi darurat.
Prabowo menilai pemerintah masih dapat menghindari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), namun situasi akan menjadi sangat sulit jika harga minyak bertahan di atas USD120 per barel dalam jangka waktu lama.
Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pemerintah telah menyiapkan tiga skenario untuk mengantisipasi fluktuasi harga minyak dan nilai tukar rupiah.