Lebih dari tiga bulan setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, konflik masih berada dalam kebuntuan.
Gencatan senjata yang rapuh masih berlaku, sementara Selat Hormuz yang strategis sebagian besar masih tertutup bagi lalu lintas maritim.
Sejak perang dimulai, Iran secara efektif menghentikan sebagian besar pelayaran non-Iran yang keluar masuk Teluk Persia.
Kondisi ini menghambat sekitar seperlima arus perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) global serta mendorong harga energi melonjak lebih dari 50 persen. AS juga tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Analis dari firma konsultan energi Ritterbusch and Associates mengatakan pasar minyak masih bergerak liar di tengah pernyataan yang saling bertentangan dari Gedung Putih dan Iran, serta perbedaan pandangan antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.