sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Minyak Stabil, Ketegangan AS-Iran Masih Membayangi

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
11/02/2026 07:30 WIB
Harga minyak dunia bergerak relatif stabil pada Selasa (10/2/2026), seiring pelaku pasar menunggu arah yang lebih jelas dari Amerika Serikat (AS)-Iran.
Harga Minyak Stabil, Ketegangan AS-Iran Masih Membayangi. (Foto: Freepik)
Harga Minyak Stabil, Ketegangan AS-Iran Masih Membayangi. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak dunia bergerak relatif stabil pada Selasa (10/2/2026), seiring pelaku pasar menunggu arah yang lebih jelas dari perkembangan hubungan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Pasar juga mencermati upaya mengakhiri perang Rusia-Ukraina serta rilis data ekonomi AS dan persediaan minyak Negeri Paman Sam.

Kontrak berjangka (futures) Brent turun 0,3 persen dan ditutup di USD68,80 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 0,6 persen ke level USD63,96 per barel.

Analis dari perusahaan konsultan energi Gelber & Associates menilai, dikutip Reuters, pelaku pasar masih bersikap wait and see.

Mereka enggan mendorong harga ke satu arah tertentu hingga muncul sinyal yang lebih jelas dari jalur diplomasi, data persediaan minyak berikutnya, atau konfirmasi bahwa arus pasokan benar-benar terganggu, bukan sekadar terancam.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan, perundingan nuklir dengan AS memberi kesempatan bagi Teheran untuk menilai keseriusan Washington dan menunjukkan adanya konsensus yang cukup untuk melanjutkan jalur diplomasi.

Dalam wawancara pada Selasa, Presiden AS Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat terkait program nuklir dan rudal balistiknya.

Menurut Trump, akan menjadi langkah yang “bodoh” jika Iran tidak melakukannya.

Media Wall Street Journal melaporkan, sejumlah pejabat AS telah membahas kemungkinan penyitaan kapal tanker yang mengangkut minyak Iran guna menekan Teheran.

Namun, langkah tersebut dinilai berisiko memicu pembalasan dan mengguncang pasar minyak global.

Diplomat AS dan Iran diketahui menggelar pembicaraan melalui mediator di Oman pekan lalu, sebagai upaya menghidupkan kembali diplomasi.

Langkah ini dilakukan setelah Trump menempatkan armada laut di kawasan tersebut, yang sempat memicu kekhawatiran akan potensi aksi militer baru.

“Pasar masih berfokus pada ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat,” ujar analis minyak dari pialang PVM, Tamas Varga.

Varga melanjutkan, “Namun, tanpa tanda-tanda konkret gangguan pasokan, harga kemungkinan mulai bergerak turun.”

Sekitar seperlima konsumsi minyak global melewati Selat Hormuz yang terletak di antara Oman dan Iran.

Kondisi ini membuat setiap eskalasi di kawasan tersebut menjadi risiko besar bagi pasokan minyak dunia. Iran bersama negara-negara anggota OPEC lainnya, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui selat ini, terutama ke kawasan Asia.

Berdasarkan data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), Iran tercatat sebagai produsen minyak mentah terbesar ketiga di OPEC pada 2025, setelah Arab Saudi dan Irak.

Rusia, Ukraina, dan Venezuela

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengatakan akan mengusulkan daftar konsesi yang perlu dituntut Eropa dari Rusia sebagai bagian dari kesepakatan untuk mengakhiri perang di Ukraina.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya menekan pendapatan Rusia, yang pada 2025 tercatat sebagai produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi, menurut data EIA.

Sementara itu, Indian Oil Corp dilaporkan membeli enam juta barel minyak mentah dari Afrika Barat dan Timur Tengah.

Langkah ini dilakukan seiring India mengurangi pembelian minyak Rusia dalam upaya New Delhi mendorong kesepakatan dagang dengan Washington.

Di Venezuela, perluasan lisensi AS diperkirakan memulihkan produksi minyak negara anggota OPEC di Amerika Selatan tersebut pada pertengahan 2026 ke level sebelum blokade laut Amerika Serikat pada Desember, kata EIA.

Ekonomi AS dan Persediaan Minyak

Penjualan ritel AS tercatat stagnan secara tak terduga pada Desember, seiring rumah tangga mengurangi belanja kendaraan bermotor dan barang bernilai besar lainnya.

Kondisi ini berpotensi membawa pertumbuhan konsumsi dan ekonomi ke jalur yang lebih lambat memasuki awal tahun.

Analis menilai investor akan mencermati sejumlah rilis data ekonomi AS pekan ini, termasuk laporan ketenagakerjaan nonfarm payrolls (NFP) Januari pada Rabu serta data inflasi pada Jumat, guna mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Bank sentral, termasuk The Fed, menyesuaikan suku bunga untuk menjaga inflasi tetap terkendali.

Trump sendiri telah menekan The Fed agar menurunkan suku bunga, langkah yang populer secara politik karena menurunkan biaya konsumen dan berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi serta permintaan energi, meski juga berisiko memicu lonjakan inflasi.

Sementara itu, persediaan minyak mentah AS naik 13,4 juta barel pada pekan yang berakhir 6 Februari, menurut sumber pasar yang mengutip data American Petroleum Institute.

Para analis sebelumnya memperkirakan stok minyak mentah hanya naik 0,1 juta barel.

Angka tersebut dibandingkan dengan kenaikan 4,1 juta barel pada periode yang sama tahun lalu dan rata-rata kenaikan 1,4 juta barel dalam lima tahun terakhir.

Pelaku pasar kini menantikan data resmi persediaan minyak mingguan dari EIA yang dijadwalkan rilis pada Rabu. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3 4 5 6 7
Advertisement
Advertisement