sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Minyak Turun Lebih dari 2 Persen meski AS Kenakan Sanksi Baru ke Iran

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
25/08/2026 07:16 WIB
Harga minyak mentah turun lebih dari 2 persen pada Senin (24/8/2026), tertekan aksi ambil untung setelah reli dalam beberapa pekan terakhir.
Harga Minyak Turun Lebih dari 2 Persen meski AS Kenakan Sanksi Baru ke Iran. (Foto: Magnific)
Harga Minyak Turun Lebih dari 2 Persen meski AS Kenakan Sanksi Baru ke Iran. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga minyak mentah turun lebih dari 2 persen pada Senin (24/8/2026), tertekan aksi ambil untung setelah reli dalam beberapa pekan terakhir.

Investor juga menilai sanksi baru Amerika Serikat (AS) terhadap Iran belum memberikan dampak signifikan terhadap pasokan minyak.

Kontrak berjangka (futures) Brent ditutup turun 2,35 persen menjadi USD92,17 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 2,35 persen menjadi USD85,01 per barel.

Kedua kontrak minyak tersebut sebelumnya telah mencatat kenaikan mingguan kedua secara beruntun pada pekan lalu, dengan masing-masing menguat lebih dari 5 persen.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin mengumumkan perluasan sanksi sekunder yang dapat dikenakan terhadap entitas dan negara yang masih mempertahankan hubungan bisnis dengan Iran di seluruh dunia.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Washington meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran, di tengah perang yang kini mendekati enam bulan.

Pengumuman itu menyusul ancaman Presiden Donald Trump pada pekan lalu untuk menerapkan "perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya" terhadap Iran.

Namun, analis strategi investasi Raymond James Pavel Molchanov menilai pengumuman Bessent tidak membawa banyak hal baru karena langkah tersebut sebelumnya telah disinyalkan.

"Pasar minyak telah menguat cukup tajam pekan lalu sehingga aksi ambil untung terjadi hari ini," kata Molchanov, dikutip Reuters.

Ia juga mempertanyakan apakah Gedung Putih mampu menerapkan kebijakan baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya dan memberikan dampak jauh lebih besar terhadap perekonomian Iran.

Analis geopolitik Rystad Energy Jorge Leon mengatakan pertanyaan utama saat ini adalah seberapa agresif Washington akan menegakkan sanksi sekunder terhadap mitra dagang Iran yang masih tersisa.

"Jika China tidak mengurangi pembelian secara signifikan, dampak tambahan terhadap pendapatan minyak Iran kemungkinan relatif terbatas," ujarnya.

Iran sebelumnya mengecam rencana AS untuk memberlakukan sanksi baru. Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menyerukan penyelesaian melalui jalur diplomasi.

Pada Senin, Kepala Angkatan Darat Pakistan berkunjung ke Teheran untuk melakukan pembicaraan mediasi, menjelang pengumuman sanksi baru oleh AS.

Di sisi lain, pengiriman minyak melalui Selat Hormuz masih menghadapi kendala. Jalur strategis tersebut sebelumnya menjadi rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak global.

Data pelayaran menunjukkan kurang dari 20 kapal komoditas melintasi Selat Hormuz selama akhir pekan. Blokade Iran dan AS membatasi lalu lintas melalui jalur penting bagi pengiriman energi tersebut.

CEO TotalEnergies Patrick Pouyanne mengatakan perusahaan minyak tersebut masih dapat mengangkut minyak melalui Selat Hormuz secara menguntungkan. Biaya transportasi yang lebih tinggi disebut masih dapat tertutupi oleh diskon besar yang diberikan produsen minyak mentah.

Sementara itu, SOMO Irak dan QatarEnergy menawarkan minyak mentah untuk dimuat di dalam kawasan Selat Hormuz melalui tender, menurut sejumlah pedagang.

Analis SEB Bjarne Schieldrop menilai harga Brent yang berada di sekitar USD93 per barel, jauh di bawah kisaran USD120-USD150 per barel, menunjukkan bahwa pasokan minyak masih cukup mengalir melalui Selat Hormuz dan kawasan Teluk Persia secara umum.

Menurutnya, situasi dapat berubah apabila Iran benar-benar memutuskan menutup Selat Hormuz menggunakan rudal dan drone.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Morgan Stanley menaikkan proyeksi harga Brent dan memperkirakan harga minyak dapat mencapai puncak USD100 per barel pada kuartal IV 2026.

Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) saat ini belum membahas kemungkinan pelepasan minyak tahap kedua dari cadangan strategis. Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol pada Senin. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement