Selain memasuki fase produksi prima, AMMN juga termasuk salah satu produsen tembaga-emas paling menguntungkan, dengan valuasi yang masih atraktif dan diskon sekitar 75 persen terhadap nilai intrinsik.
Dari sisi valuasi, AMMN diperdagangkan pada price to earnings (PE) 2027 sebesar 16,2 kali, jauh di bawah rata-rata emiten emas di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berada di kisaran 33,3 kali.
Dengan asumsi re-rating ke 30 kali PE, Sucor memproyeksikan total return CAGR sebesar 27 persen dalam tiga tahun ke depan.
Phase 8 Batu Hijau disebut sebagai pengubah permainan (game changer). Produksi konsentrat pada 2026 diperkirakan melonjak lebih dari dua kali lipat secara tahunan, ditopang peningkatan kadar bijih, tambahan jalur konsentrator baru, serta kenaikan utilisasi smelter tembaga yang mulai menghasilkan katoda pada awal 2025.
Utilisasi smelter diproyeksikan mencapai sekitar 80 persen pada 2026 dan mendekati kapasitas penuh pada 2027.