Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah mendorong lonjakan harga minyak global, yang berpotensi meningkatkan inflasi Indonesia sebagai negara net importir minyak, memperbesar subsidi, serta memperlebar defisit transaksi berjalan.
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap potensi penurunan peringkat utang juga mulai mencuat seiring meningkatnya belanja pemerintah dan beban subsidi.
Jika Indonesia kehilangan status investment grade, arus keluar dana dari investor global berpotensi meningkat karena adanya penjualan paksa oleh dana yang berbasis mandat rating.
Sucor juga menyoroti risiko penurunan bobot Indonesia dalam indeks MSCI atau bahkan re-klasifikasi menjadi frontier market, meski probabilitas skenario ekstrem tersebut dinilai relatif rendah.
Tekanan tambahan datang dari pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang memperbesar kerugian investor asing, serta potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dapat menekan daya beli dan konsumsi rumah tangga.