Menurut Sucor, daya tahan pasar saham Indonesia ditopang oleh kekuatan struktural ekonomi domestik, mulai dari populasi lebih dari 280 juta jiwa, pertumbuhan kelas menengah, konsumsi domestik yang dominan terhadap PDB, hingga kekayaan sumber daya alam seperti nikel, batu bara, dan minyak sawit.
Sucor menekankan bahwa bear market memang dapat mengganggu tren pertumbuhan dalam jangka pendek, tetapi tidak pernah membalikkan arah pertumbuhan struktural ekonomi Indonesia.
Karena itu, investor dinilai perlu melihat koreksi saat ini dalam konteks jangka panjang.
“Kenaikan premi risiko membuka ruang bagi investor untuk secara selektif mengoleksi saham-saham berkualitas tinggi sebelum sentimen pasar kembali pulih,” kata Sucor. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.