“ASII serta TLKM juga rutin mendapat inflow dari foreign. Ini yang mengakibatkan kenaikan IHSG belakangan yang terus mencetak all-time high,” jelasnya.
Menurut Michael, penguatan tersebut terjadi meskipun sentimen domestik belum sepenuhnya solid.
“Secara sentimen dalam negeri masih dipertanyakan, seperti melemahnya rupiah terhadap dolar AS. Tapi pergerakan asing ini sendiri memberikan gambaran outlook terhadap ekonomi Indonesia itu sendiri,” pungkasnya.
Di tengah aksi jual global seiring sentimen geopolitik, IHSG justru mampu mempertahankan tren penguatannya dengan ditutup naik 0,64 persen ke level 9.133,87 pada perdagangan Senin, sekaligus mencetak rekor tertinggi baru.
KB Valbury Sekuritas mencatat, perhatian pelaku pasar pada pekan ini akan tertuju pada rilis sejumlah indikator makroekonomi domestik, mulai dari pertumbuhan kredit, keputusan suku bunga, hingga perkembangan jumlah uang beredar.